Rupiah Melesat ke Rp 16.300 Usai Trump Tunda Tarif Baru
Dampak dari kebijakan tarif ini juga terasa di pasar mata uang. Dolar Kanada naik ke level 1,4568 per dolar AS setelah sebelumnya anjlok ke titik terendah sejak 2003. Sementara itu, China berencana menantang tarif yang dikenakan AS melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Di pasar offshore, dolar AS tercatat berada di angka 7,3254 yuan setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi di 7,3765 yuan. Pasar di China sendiri masih tutup untuk perayaan Tahun Baru Imlek dan akan kembali dibuka pada Rabu (5/2/2025).
Kebijakan tarif ini diperkirakan akan meningkatkan inflasi di AS, yang berpotensi The Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Para ekonom menilai bahwa langkah ini juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global serta menaikkan harga bagi konsumen Amerika.
Menurut Mark McCormick, kepala strategi valas dan pasar negara berkembang di TD Securities, kebijakan ini menunjukkan upaya AS untuk memperkuat kembali dominasinya dan membebankan biaya ekonomi kepada negara lain.
Dampak lainnya, pasar kini mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Peluang pemangkasan dua kali dalam tahun ini kini hanya diperkirakan sebesar 50%. Para analis juga memperingatkan bahwa ekonomi Kanada dan Meksiko berisiko mengalami resesi begitu tarif diberlakukan. Sementara itu, ekonomi zona euro terancam mengalami stagnasi jika kebijakan tarif turut menyasar Eropa.
Baca Juga:
Sri Mulyani Bicara Tren RupiahSebelumnya, Trump menyatakan bahwa tarif terhadap Uni Eropa tetap akan diberlakukan, meski tidak memberikan kepastian mengenai waktu pelaksanaannya. Dalam pertemuan informal di Brussels pada Senin, para pemimpin Uni Eropa menegaskan kesiapan untuk melawan jika AS memberlakukan tarif, namun tetap mengedepankan negosiasi.
Mata uang euro sempat anjlok hingga 2,3% ke level terendah sejak November 2022 di angka US$ 1,0125, sebelum akhirnya pulih sedikit ke US$ 1,0286. Sementara itu, dolar Australia menyentuh level terendah dalam lima tahun dan dolar Selandia Baru jatuh ke level terendah sejak Oktober 2022. Kedua mata uang ini sering digunakan sebagai proksi likuid untuk yuan China.
Sebaliknya, yen Jepang justru menguat, dengan dolar AS turun 0,24% terhadap yen ke level 154,845. Di sisi lain, Bitcoin kembali menembus angka 100.000 dolar AS setelah sebelumnya mengalami pelemahan dalam tiga pekan terakhir.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi
Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas AntamDPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Tag Terpopuler
Terpopuler






