Rupiah Tancap Gas di Tengah Ketidakpastian Tarif Trump
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup tancap gas pada Jumat sore (212/2025). Di tengah ketidakpastian keberlanjutan atas tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump.
Mata uang rupiah ditutup menguat 24,5 poin berada di level Rp 16.313 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat naik 0,14 poin menjadi 106,5. Nilai tukar rupiah sempat ditutup naik 50 poin di level Rp 16.338 per dolar AS pada Kamis (20/2/2025).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif. “Namun, rupiah akan ditutup menguat direntang Rp 16.280-16.320,” ungkap Ibrahim, Jumat (21/2/2025).
Ibrahim menjelaskan, di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan atas tarif perdagangan Trump. Presiden AS mengancam tarif 25% untuk mobil, farmasi, semikonduktor, dan kayu minggu ini. Presiden mengatakan bahwa tarif tersebut dapat diberlakukan paling cepat pada awal April. “Trump juga mengancam tarif timbal balik terhadap mitra dagang utama AS, yang meningkatkan kekhawatiran atas perang dagang global,” papar Ibrahim.
Selain itu, lanjut dia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy awal minggu ini sangat marah dengan langkah-langkah AS dan Rusia untuk merundingkan kesepakatan damai tanpa Kyiv dan komentar Presiden AS Donald Trump yang menyalahkan Ukraina karena memulai konflik tiga tahun dengan Moskow.
Namun, setelah pertemuan dengan utusan Trump untuk konflik Ukraina pada hari Kamis, Zelenskiy mengatakan Ukraina siap bekerja cepat untuk menghasilkan kesepakatan yang kuat tentang investasi dan keamanan dengan AS.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Bloomberg Television pada hari Kamis, Rusia dapat memperoleh keringanan dari sanksi AS berdasarkan kesediaannya untuk berunding guna mengakhiri perangnya di Ukraina.
Sentimen dari China
Ibrahim menambahkan, sentimen positif juga datang dari bank sentral China, yang berjanji pada hari Kamis untuk memberikan dukungan keuangan yang kuat berupa stimulus bagi perkembangan ekonomi swasta yang sehat dan pertumbuhan perusahaan swasta. “Hal itu berdampak positif untuk semua harga komoditas,” paparnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan, pasar merespon positif pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang akan meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), pada Senin (24/2/2025). Pembentukan Danantara ditujukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkualitas selama lima tahun ke depan.
“Dengan demikian, badan ini diharapkan bisa menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi, dengan mengkonsolidasikan aset-aset penting dan mengoptimalkan entitas kekayaan negara. Sedangkan dana yang dikelola lebih dari US$ 900 miliar,” papar Ibrahim.
Lebih lanjut Ibrahim mengatakan, dana tersebut akan diinvestasikan pada proyek-proyek berkelanjutan yang berdampak besar di berbagai sektor, seperti energi terbarukan, manufaktur maju, industri hilir, dan produksi pangan. Negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu telah meningkatkan upaya untuk menarik investasi asing dan mengurangi ketergantungannya pada ekspor komoditas mentah dengan mengembangkan industri bernilai tambah.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






