Rupiah vs Dolar AS Hari ini, Penegasan Tarif Trump Jadi Biang Kerok
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup jatuh pada Selasa sore (25/2/2025). Hal itu karena dolar menguat seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah penegasan Presiden AS Donald Trump bahwa tarif impor terhadap Meksiko dan Kanada tetap akan diberlakukan sesuai jadwal.
Mata uang rupiah ditutup jatuh 93 poin berada di level Rp 16.371 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat naik tipis 0,05 poin menjadi 106,6. Nilai tukar rupiah sempat ditutup menguat 34,5 poin berada di level Rp 16.278 per dolar AS pada Senin (24/2/2025).
Dikutip dari Reuters, dolar AS menguat tipis pada Selasa (25/2/2025) setelah sebelumnya jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan di awal pekan. Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa tarif impor terhadap Meksiko dan Kanada tetap akan diberlakukan sesuai jadwal.
Kenaikan dolar ini membuat euro tertahan dari level tertingginya dalam sebulan di posisi US$ 1,0476. Pergerakan euro ke depan akan bergantung pada kecepatan pembentukan pemerintahan koalisi di Jerman setelah kemenangan partai konservatif dalam pemilu negara tersebut.
Pada Senin (24/2/2025), Trump menyatakan, tarif impor terhadap Kanada dan Meksiko akan tetap berlaku sesuai jadwal pada 4 Maret 2025. Pernyataan ini disampaikan meskipun kedua negara telah meningkatkan keamanan perbatasan dan berupaya menghentikan aliran fentanyl ke AS.
Banyak pihak berharap bahwa Kanada dan Meksiko dapat meyakinkan pemerintahan Trump untuk menunda kembali tarif yang akan berdampak pada lebih dari US$ 918 miliar impor AS, termasuk sektor otomotif dan energi. Namun, komentar Trump justru memicu aksi penghindaran risiko (risk off), mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS. Akibatnya, dolar AS ikut mendapat dukungan dari pergerakan ini.
Indeks Dolar Stabil
Indeks dolar AS stabil di 106,59, setelah sempat turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan di posisi 106,12 pada sesi sebelumnya. Sejak puncaknya pada Januari lalu, dolar telah melemah sekitar 3% akibat serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Namun, kekhawatiran terkait tarif impor membuat pelemahan dolar tidak berlangsung lama.
Kepala Strategi Valas di National Australia Bank Ray Attrill menyebut, dolar AS masih mendapat dukungan dari sentimen safe haven, terutama ketika pasar ekuitas menunjukkan tanda-tanda pelemahan. "Sejak beberapa minggu terakhir, data ekonomi AS semakin menunjukkan bahwa keunggulan ekonomi negara ini mulai memudar. Namun, setiap kali pasar ekuitas menunjukkan nada risk off, dolar kembali mendapatkan dukungan tradisionalnya sebagai aset aman," ujarnya.
Attrill menambahkan, menjelang tenggat waktu tarif impor yang semakin dekat, sulit untuk melihat pemulihan signifikan dalam sentimen risiko. "Hal ini akan terus menjaga permintaan defensif terhadap dolar AS," tambahnya.
Di sisi lain, dolar AS naik 0,05% terhadap yen Jepang menjadi 149,75, setelah sebelumnya sempat melemah ke level terendah sejak awal Desember pada Senin. Pelemahan dolar terhadap yen belakangan ini dipicu oleh turunnya imbal hasil obligasi AS, sementara imbal hasil obligasi Jepang meningkat akibat spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






