Buy Saham 3 BUMN di Bawah Danantara
JAKARTA, investor.id – Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi super holding untuk tujuh BUMN terbesar dan Indonesia Investment Authority (INA). BUMN tersebut antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Berdasarkan UU BUMN yang baru, dana dari dividen BUMN tersebut akan kembali diinvestasikan untuk meningkatkan nilai aset, bukan langsung masuk ke APBN. Pada 2024, dividen dari tujuh BUMN di bawah Danantara mencapai US$ 5,2 miliar atau 95% dari total dividen BUMN yang diterima pemerintah.
Dengan begitu, Danantara dan BUMN-BUMN yang terkait dapat beroperasi secara lebih fleksibel, memperluas pendanaan non-APBN, serta membangun kemitraan strategis untuk proyek-proyek besar. Terlebih, menurut UU BUMN yang baru, kerugian investasi dari keputusan bisnis yang sehat tidak akan diklasifikasikan sebagai kerugian negara.
“Kami melihat pembentukan Danantara berpotensi sejalan dengan kepentingan investor, karena listed companies di bawah naungannya bakal mendapat manfaat dari peningkatan efisiensi, alokasi modal, dan disiplin keuangan yang lebih baik,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kefas Sidauruk dalam risetnya.
Selain itu, potensi dividen bisa lebih kuat. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan potensi kenaikan imbal hasil (yield) dividen untuk BMRI, BBNI, dan TLKM menjadi 9,6%, 11,2%, dan 7,1% jika rasio pembayaran dividen dinaikkan menjadi 80%. Adapun proyeksi dasar yield dividen BMRI, BBNI, dan TLKM sebesar 7,2%, 7,7%, dan 6,9%.
“Dampak potensial lainnya adalah penyelesaian aset bermasalah bisa lebih cepat, yang dapat mengarah pada peningkatan kualitas aset bagi bank BUMN,” jelas Erindra.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating beli (buy) untuk saham 3 BUMN di bawah Danantara, yaitu Bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI), dan Telkom (TLKM).
Target harga saham BMRI sebesar Rp 5.900, BBNI Rp 5.100, dan TLKM Rp 3.680.
Sementara itu, Presiden Direktur CSA Institute, Aria Santoso mengungkapkan bahwa penurunan IHSG belakangan ini, termasuk saham bank-bank besar, bukan akibat peluncuran Danantara, melainkan karena situasi perekonomian global.
“Pelemahan IHSG berawal dari tahun lalu. Dana global mencari tempat yang menarik untuk investasi, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi. Sedangkan Indonesia malah sempat menurunkan suku bunga satu kali. Emerging market jadi less attractive. Bukan karena sentimen Danantara,” kata Aria.
Namun, dia dapat memahami jika sebagian pelaku pasar cenderung bersikap skeptis. Itu merupakan sifat alamiah investor.
“Rasa takut, khawatir, dan cemas berasal dari sesuatu yang kita tidak ketahui. Dari kekhawatiran itu secara jangka pendek membuat tekanan ke pasar. Tapi nanti ketika pelaksanaannya cukup baik dan dipahami lebih komprehensif, maka akan kembali lagi, ada inflow lagi ke pasar,” ujarnya.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






