PTPP dan Adhi Karya (ADHI) Rilis Lapkeu, Siapa Jawara?
Berbeda dengan PTPP, pendapatan usaha Adhi Karya alias ADHI justru anjlok sebanyak 35% menjadi Rp 13,3 triliun pada tahun buku 2024, ketimbang sebelumnya Rp 20 triliun.
Penurunan tersebut akibat lesunya pasar bisnis konstruksi, yang akhirnya berimbas pada pendapatan ADHI di bisnis teknik dan konstruksi yang sebelumnya memberikan penghasilan sebesar Rp 16,8 triliun, namun pada 2024 ambles menjadi Rp 10,9 triliun.
Nasib bisnis properti dan pelayanan ADHI juga demikian. Pendapatannya terkoreksi dari Rp 816 miliar menjadi Rp 488 miliar pada 2024, termasuk bisnis manufaktur yang mengempis dari Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,5 triliun. Tanpa kecuali, investasi dan konsesi ADHI merosot menjadi Rp 364 miliar dibanding sebelumnya Rp 749 miliar.
Tekan Beban
Lainnya, yang membedakan antara PTPP dan ADHI adalah beban pokok pendapatannya. Di mana, PTPP mengalami pembengkakan, sedangkan ADHI mampu melakukan efisiensi secara signifikan dari Rp 17,7 triliun, menjadi Rp 11,7 triliun.
ADHI juga menghemat dari sisi investasi dan konsesi menjadi Rp 222 miliar dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 479 miliar. Lalu, dari sisi produksi, ADHI mampu mengurangi beban biaya untuk pembelian bahan baku dari sebelumnya Rp 5,6 triliun, menjadi Rp 5 triliun.
Kemudian, beban biaya sub-kontraktor ditekan menjadi Rp 3,3 triliun, overhead diperas lagi menjadi Rp 1,3 triliun, efisiensi tenaga kerja menjadi Rp 1,2 triliun, dan beban biaya alat menurun drastis menjadi Rp 629 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 1,1 triliun.
Sayangnya, dari sisi beban usaha, ADHI masih menghadapi tantangan, sehingga laba usaha emiten BUMN karya ini tersisa sebesar Rp 702 miliar pada 2024. Belum lagi, ADHI terbebani beban keuangan yang cukup besar mencapai Rp 837 miliar.
Beruntungnya, laba bersih ADHI atau laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk masih mampu tumbuh 17,7% menjadi Rp 252 miliar, dari sebelumnya Rp 214 miliar. Pertumbuhan laba ADHI ini agak kontras dengan laba bersih PTPP yang sedikit tertekan pada tahun buku 2024. Namun dari sisi jumlah, laba PTPP unggul kurang lebih dua kali lipat dari laba ADHI.
Dari sisi aset, PTPP juga lebih unggul dengan membukukan penguatan menjadi Rp 56,58 triliun pada 2024. Liabilitas PTPP turun menjadi Rp 41,3 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 15,2 triliun. Termasuk, saldo kas dan setara kas PTPP pada akhir tahun terkerek menjadi Rp 4,18 triliun.
Sebaliknya, aset ADHI berkurang cukup dalam dari Rp 40,4 triliun, menjadi Rp 35 triliun, diimbangi berkurangnya liabilitas menjadi Rp 26 triliun dan ekuitas menguat menjadi Rp 9,6 triliun. Posisi kas dan setara kas ADHI pada akhir juga menciut menjadi Rp 2,2 triliun dibanding sebelumnya sebesar Rp 4,5 triliun.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






