IHSG di Persimpangan, tapi UNVR, GOTO, dan JPFA Bisa Panen Cuan
JAKARTA, investor.id - Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Dimas Krisna Ramadhani mengatakan, Indeks harga saham gabungan (IHSG) di persimpangan pada pekan ini. Hal itu karena dipengaruhi oleh empat sentimen, mulai dari keputusan bank sentral Jepang, RDG BI, The Fed, hingga ex date dividen BBCA.
Meski demikian, Dimas merekomendasikan UNVR, GOTO dan JPFA bisa panen cuan.
Dimas menyebut, apabila minggu ini IHSG tidak mampu bertahan di level support penting di level 6.400 – 6.500, terbuka peluang bagi IHSG untuk terus mengalami penurunan. “IHSG diprediksi untuk menguji support di level 6.249 pada pekan ini,” ungkap Dimas dalam risetnya, Minggu (16/3/2023).
Menurut Dimas, ada empat sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG pekan ini. Pertama, sentimen keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang (BOJ) pada Rabu (19/3/2025). Berdasarkan konsensus, BOJ diperkirakan akan menahan tingkat suku bunganya di level saat ini (0,5%). Kekhawatiran bagi pelaku pasar adalah jika BOJ mendadak meningkatkan suku bunganya atas dasar menjaga stabilitas perekonomian negaranya.
“Hal ini akan memicu Carry Trade terjadi lagi. Diketahui, pada 5 Agustus 2024 lalu indeks saham global mengalami penurunan yang signifikan yang disebabkan Carry Trade ini karena pada saat itu keputusan BOJ untuk meningkatkan suku bunganya yang diluar ekspektasi pelaku pasar," paparnya.
Kedua, lanjut Dimas, keputusan RDG BI. Di tanggal yang sama BI pun akan mengumumkan tingkat suku bunga acuannya yang berdasarkan konsensus BI diperkirakan juga akan menahan di level saat ini (5,75%). Jika melihat indikator makro ekonomi dalam negeri memang secara pertimbangan logis sebaiknya BI tetap mempertahankan tingkat suku bunganya di level saat ini.
"Dua indikator yang menjadi justifikasi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS dan inflasi di dalam negeri. Apabila BI memangkas suku bunganya di level saat ini untuk meningkatkan inflasi yang di Januari lalu Indonesia mencatatkan deflasi pertama kali sejak Maret 2000 maka akan berdampak terhadap tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS," terang Dimas.
Namun, lanjut dia, apabila BI meningkatkan suku bunga acuannya, hal ini cenderung berat dilakukan karena tren penurunan suku bunga yang dilakukan mayoritas bank sentral dunia dan justru akan semakin menurunkan kemampuan daya beli masyarakat yang digambarkan melalui indikator inflasi tadi.
"Oleh karenanya, menahan suku bunga di level saat ini saya kira menjadi keputusan yang paling tepat bagi BI di bulan ini karena di bulan ini juga bertepatan dengan musim Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang akan meningkatkan konsumsi masyarakat yang harapannya akan memberikan catatan baik untuk inflasi di bulan ini,” tambah Domas.
Suku Bunga The Fed
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






