Rupiah vs Dolar AS Hari ini, Tertekan Proyeksi OECD
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah lagi pada Rabu sore (19/3/2025). Hal itu karena tertekan Organization for Economic Cooperation and Development alias OECD yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia
Mata uang rupiah ditutup terkoreksi 103 poin (0,63%) berada di level Rp 16.531 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat naik 0,29 poin menjadi 103,5. Nilai tukar rupiah sempat ditutup ditutup melemah 22 poin (0,13%) berada di level Rp 16.428 per dolar AS pada Selasa (18/3/2025).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, Organization for Economic Cooperation and Development alias OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini menjadi 4,9%. Sebelumnya dalam publikasi OECD Economic Outlook Desember 2024, organisasi ekonomi yang berisi banyak negara maju itu memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2% pada 2025.
“Kendati demikian, OECD menyatakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak akan melambat secara signifikan karena didukung oleh potensi pertumbuhan ekspor akibat efek ekskalasi perang dagang yang terjadi belakangan,” ungkap Ibrahim, Rabu (19/3/2025).
Selain itu, lanjut Ibrahim, OECD memprakirakan tingkat suku bunga acuan Indonesia alias BI Rate akan tetap stabil untuk menjaga inflasi tetap rendah dan menghindari arus keluar modal akibat kebijakan suku bunga tinggi di AS.
Dalam proyeksi terbarunya, Ibrahim menambahkan, OECD menyatakan inflasi Indonesia akan berada di angka 1,8% pada 2025. Angka tersebut lebih rendah 0,3% daripada proyeksi OECD pada Desember 2024. Sebagai perbandingan, pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2025.
Selain itu, Ibrahim menyebut, rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Bulan Maret 2025 pada 18-19 Maret 2025, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 5,75%. Suku bunga deposit facility tetap berada pada level 5%. Sedangkan suku bunga lending facility juga diputuskan untuk tetap pada level 6,5%.
Sedangkan dari eksternal, Ibrahim menjelaskan, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada 4,5% setelah penutupan pertemuan pada hari Rabu nanti, di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut atas ekonomi AS di bawah Trump.
Prospek Ekonomi AS
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






