Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Terguncang Hebat Gegara Perang Tarif Trump dan China

Penulis : Indah Handayani
5 Apr 2025 | 06:04 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street
Sumber: AP
Ilustrasi Wall Street Sumber: AP

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street kembali terguncang hebat pada Jumat (4/4/2025). Setelah China membalas kebijakan tarif Presiden Donald Trump dengan menaikkan tarif terhadap seluruh produk asal Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan pecahnya perang dagang global yang berujung pada resesi ekonomi.

Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones Industrial Average jatuh 2.231,07 poin (5,5%) ke level 38.314,86, menjadi penurunan harian terbesar sejak pandemi Covid-19 pada Juni 2020. Penurunan ini menyusul koreksi 1.679 poin sehari sebelumnya, mencatat rekor baru sebagai pertama kalinya Dow Jones kehilangan lebih dari 1.500 poin dalam dua hari berturut-turut.

S&P 500 merosot 5,97% ke posisi 5.074,08, penurunan harian terbesar sejak Maret 2020. Indeks ini telah kehilangan 10% dalam dua hari terakhir dan kini turun lebih dari 17% dari puncaknya baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

Nasdaq Composite, yang banyak dihuni perusahaan teknologi dengan eksposur besar ke China, ambles 5,8% ke level 15.587,79. Setelah turun hampir 6% pada Kamis (3/4/2025), Nasdaq kini anjlok 22% dari rekor tertingginya di bulan Desember, secara teknikal memasuki wilayah bear market.

Hanya 14 saham dalam indeks S&P 500 yang ditutup menguat pada hari Jumat, menunjukkan luasnya aksi jual. Seluruh indeks utama ditutup di posisi terendah sesi perdagangan.

Saham sektor teknologi menjadi yang paling terpukul. Saham Apple merosot 7%, mencatat penurunan mingguan sebesar 13%. Saham Nvidia, raksasa chip berbasis kecerdasan buatan, juga turun 7%. Tesla, yang memiliki pasar besar di China, anjlok hingga 10%. Ketiga perusahaan tersebut terkena dampak signifikan dari tarif balasan China.

Di luar sektor teknologi, saham Boeing dan Caterpillar, dua eksportir besar ke China, masing-masing turun 9% dan hampir 6%.

“Pasar bullish sudah mati, dan itu hancur akibat ideologi dan luka yang dibuat sendiri,” ujar CEO Bowersock Capital Partners Emily Bowersock Hill sembari menambahkan, meski pasar mungkin sudah mendekati titik bawah dalam jangka pendek, dampak perang dagang terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang tetap menjadi kekhawatiran besar.

Tarif Balasan China

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia