Elon Musk dan Para Miliarder Mulai Ubah Krisis Jadi Portofolio Saham
JAKARTA, investor.id - Krisis energi, pangan, dan iklim kini menjadi sorotan utama pemerintah dunia, termasuk Indonesia. Tiga hal ini bukan lagi sekadar isu lingkungan atau geopolitik, tapi telah menyentuh kebutuhan pokok manusia: makan, hidup sehat, dan bertahan dari bencana. Elon Musk, Bill Gates, dan para miliarder lainnya ambil kesempatan dengan menandai sektor-sektor penting pada ketahanan pangan, teknologi kesehatan, teknologi air bersih, infrastruktur iklim, dan biosekuriti masa depan.
Inisiatif yang dilakukan oleh para miliarder di tengah krisis ini juga dapat diikuti oleh investor retail melalui pasar saham baik saham lokal maupun saham Amerika mengingat sektor-sektor tersebut merupakan kebutuhan pokok manusia dalam bertahan hidup seperti ketersediaan air bersih dan distribusi alat kesehatan.
Simak aksi dan saham-saham apa saja yang bisa mulai dipertimbangkan untuk memanfaatkan kesempatan di tengah krisis.
1. Food Security dan AgriTech (misalnya saham $BYND)
Anomali iklim yang terjadi selama beberapa tahun terakhir tak dapat dipungkiri sangat memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen sehingga krisis pangan sangat rentan untuk terjadi.
Oleh karena itu, ketersediaan rantai pasok (supply chain) harus terus dijaga. Sebagai salah satu solusinya, Bill Gates ‘diam-diam’ menjadi pemilik lahan pertanian terbesar di AS dengan total mencapai ~270k ha di 17 negara bagian.
Inisiatif ini mulai dilakukan Gates pada 2017 dengan mengakuisisi secara masif aset-aset dari Agricultural Company of America (AgCoA). Akuisisi ini diestimasikan menghabiskan biaya lebih dari $133mn.
Terdapat 2 tujuan utama yang ingin dikerjakan oleh Gates melalui investasi jumbonya ini :
- Investment in Regenerative & Vertical Farming
Hal ini bertujuan untuk lahan pertanian lebih tahan terhadap berbagai perubahan cuaca, membutuhkan lebih sedikit air dan tetap bisa menghasilkan panen yang berkualitas secara berkelanjutan.
- Tech-Driven Seed Innovation
Hal ini bertujuan untuk mendukung R&D dalam menciptakan hasil panen yang tahan ‘banting’ sekalipun di cuaca ekstrim.
Sebagai hasilnya, lahan yang dikembangkan Gates melalui Cascade Investment dan kerja sama dengan para petani mampu menghasilkan berbagai jenis pangan, mulai dari kedelai, jagung, kapas, beras hingga kentang.
Walaupun demikian, salah satu tantangan yang dihadapi oleh Gates adalah terkait tuduhan monopolisasi lahan yang bisa menganggu kewenangan dari para petani local.
Kesempatan Investor:
Lahan yang ‘tahan banting’ terhadap perubahan iklim serta inovasi teknologi pangan yang dilakukan Gates melalui Breakthrough Energy Ventures turut menggandeng perusahaan lain seperti Beyond Meat (BYND). Jika Kerjasama ini terus berkembang, BYND berpotensi memperoleh benefit dengan bertambahnya permintaan.
2. Health & Biosecurity (misalnya $ILMN, $MRNA)
Gagasan ini diusung oleh Jeff Bezos serta Bill Gates yang berawal dari ‘pelajaran’ ketika Covid-19 pada 2020 silam. Krisis pandemi kemarin menunjukkan bahwa masih terdapat kerentanan dalam sistem kesehatan global yang harus diperbaiki. Ada 3 key initiatives yang dilakukan Bezos dan Gates :
- Investment in Labs, Vaccines dan Biotech Startups
Gates Foundation menggelontorkan pendanaan jumbo ke beberapa perusahaan health tech, sedangkan Bezos berinvestasi ke perusahaan biotech seperti Unity Biotechnology (UBX) dan GRAIL (GRAL). Kedua perusahaan ini berfokus pada riset anti-aging dan deteksi kanker sejak dini.
- Pandemic Surveillance Systems
Fokus penggunaan AI dan Business Intelligance (BI) Data untuk mendeteksi potensi outbreak sebelum terjadi penyebaran masif.
- Focus on Public Health Systems
Mencakup pengawasan (bio-surveillance) hingga distribusi vaksin sehingga penanganan bisa lebih cepat jika terjadi outbreaks.
Kesempatan Investor:
Investor dapat mempertimbangkan untuk mengamati Biotech ETFs misalnya iShares Nasdaq Biotechnology ETF (IBB) ataupun ARK Genomic Revolution ETF (ARKG). Selain itu, investor juga bisa berinvestasi secara langsung ke saham yang memiliki bisnis biotech, misalnya Illumina (ILMN), CRISPR Therapeutics (CRSP), ataupun Moderan (MRNA).
3. Renewable Energy & Infrastruktur Off-Grid (misalnya $TSLA)
Ketergantungan suatu negara yang berlebihan terhadap energi fosil tak hanya membuat kondisi iklim makin memburuk, namun juga mengakibatkan negara tersebut lebih rentan terhadap gejolak geopolitik.
Oleh karena itu, perkembangan energi baru terbarukan (EBT) dapat menjadi solusi yang seimbang, baik untuk meningkatkan kualitas udara, mengurangi emisi serta alternatif investasi yang menguntungkan.
Hal inilah yang dilakukan oleh Elon Musk melalui perusahaan yang didirikannya yakni Tesla dan SolarCity. Musk berfokus pada pengembangan battery storage dan energy grid technology sehingga membuatnya sebagai pioneer di bidang revolusi hijau.
Inisiatif ini dilakukan oleh Musk sejak 2015 dengan mendirikan Tesla Energy yang kini memiliki kapasitas sebesar 31.4GWh dan diikuti dengan akuisisi SolarCity pada 2016 senilai $2.6 miliar. Selain itu, Musk juga berinvestasi pada project skala besar, antara lain : pembangkit listrik tenaga air, angin dan tenaga surya. Terdapat tiga key initiatives yang dilakukan, antara lain :
- Solar Panels, Batteries, dan Microgrids
Inisiatif untuk memastikan ketahanan energi dari setiap teknologi yang dihasilkan.
- Electric Transportation
Aksi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil (oil & gas) sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas lingkungan jangka panjang.
- Hydrogen & Energy Storage
Fokus pada inovasi untuk menyimpan surplus energi terbarukan (EBT) sehingga bisa dipakai saat kondisi darurat.
Kesempatan Investor:
Investor dapat berinvestasi pada beberapa Clean Energy ETFs , misalnya iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) dan Invesco Solar ETF (TAN). Selain itu, investor juga bisa berinvestasi langsung ke saham terkait lithium dan battery supply chain, misalnya CATL ataupun langsung ke induk besarnya yakni Tesla (TSLA).
4. Data Decentralized dan Jaringan Komunikasi (misalnya $BTC)
Jaringan komunikasi adalah hal yang amat dibutuhkan tiap saat, khususnya ketika terjadi peperangan atau bencana. Oleh karena itu, kehadiran infrastruktur digital yang bersifat decentralized sangat dibutuhkan untuk memastikan agar tiap orang bisa terhubung.
Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh Jack Dorsey yang diawali dengan pendirian Twitter pada 2006 dan Square (kini telah berganti nama menjadi Block,Inc.) pada 2009 silam. Tak hanya Dorsey, ada pula Elon Musk yang responsif terhadap kesempatan ini :
- Starlink by Elon Musk
Starlink kini telah digunakan oleh >130 negara (per Juni 2025), termasuk Indonesia dengan keunggulan utama yakni kekuatannya untuk tetap berfungsi sekalipun infrastruktur digital mengalami kerusakan.
- Blockchain & Crypto by Jack Dorsey
BTC dinilai sebagai hedge melawan inflasi dan kehancuran sistem keuangan karena sifatnya terdesentralisasi.
Kesempatan Investor:
Selain berinvestasi ke Bitcoin (BTC) secara langsung, investor juga bisa mempertimbangkan Bitcoin ETFs, misalnya iShares Bitcoin Trust (IBIT).
5. Air Bersih dan Ketahanan Iklim (misalnya $AWK)
Siapa yang menyangka bahwa air bersih saat ini merupakan komoditas berharga yang juga bisa membuka kesempatan bisnis bagi para billionaires? Hal ini dikarenakan seiring dengan penurunan kualitas iklim, kehadiran air bersih menjadi hal yang cukup langka.
Kondisi inilah yang dilirik oleh BlackRock sebagai kesempatan untuk berinvestasi senilai $600 juta di teknologi ramah lingkungan sejak 2019. Investasi ini dilakukan dengan menggandeng Temasek sebagai Decarbonization Partners.
Melalui investasi jumbo tersebut, Black Rock melakukan beberapa key initiatives, misalnya :
- Desalination Technology
Teknologi ini seperti mengubah air laut menjadi air yang siap minum.
- Climate Adaptation Infrastructure
Melalui pembangunan bendungan, kanal dan sistem pendingin air ketika kondisi suhu terlalu tinggi yang mengakibatkan kekeringan.
Kesempatan Investor
Investor bisa mempertimbangkan ETFs yang berhubungan dengan Water-focused, misalnya Invesco Water Resources ETF (PHO) ataupun First Trust Water ETF (FIW).
Terlepas dari adanya berbagai kritik tentang investasi strategis para billionaires yang dianggap bersifat monopoli, namun sebenarnya hal ini akan membantu peralihan ke infrastruktur yang lebih adaptif. Di sisi lain, investor tetap bisa ‘mengikuti jejak’ para billionaires tersebut dengan memanfaatkan berbagai alternatif investasi yang ada.
Editor: Gesa Vitara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






