Wall Street Tersandung Inflasi AS dan Kesepakatan Dagang dengan China
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (11/6/2025). Hal itu seiring investor mencermati perkembangan negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta data inflasi AS terbaru.
Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 turun 0,27% ke level 6.022,24, mengakhiri tren kenaikan tiga hari berturut-turut. Nasdaq Composite juga melemah 0,5% ke posisi 19.615,88. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average hanya turun tipis 1,1 poin dan ditutup di 42.865,77.
Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 0,1% pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan konsensus ekonom sebesar 0,2%. CPI inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga naik 0,1%, di bawah ekspektasi.
Global Co-CIO untuk multi-aset di Goldman Sachs Asset Management Alexandra Wilson-Elizondo mengatakan, inflasi Mei yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan bahwa dampak tarif belum signifikan. “Banyak perusahaan masih mengandalkan stok lama atau menyesuaikan harga secara bertahap karena permintaan yang belum pasti,” ujarnya.
Elizondo menambahkan, pasar saat ini berada dalam masa tunggu, menanti berakhirnya jeda tarif 90 hari. "Jika inflasi AS tetap terkendali atau pasar tenaga kerja mulai melemah, The Fed kemungkinan akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga di masa mendatang," katanya.
Negosiasi dagang antara AS dan China menjadi perhatian utama investor pekan ini. Setelah dua hari pembicaraan di London, pejabat kedua negara sepakat pada kerangka kesepakatan awal. Namun, implementasinya masih menunggu persetujuan dari Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Kesepakatan AS-China
Dalam kesepakatan tersebut, China akan mengizinkan ekspor logam langka, sementara AS akan mencabut sebagian pembatasan ekspor teknologi tinggi ke China. Meski begitu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menegaskan, tarif AS terhadap produk China tidak akan berubah dalam waktu dekat.
Presiden Trump dalam unggahannya di Truth Social menyatakan bahwa kesepakatan dagang sudah selesai, tinggal menunggu persetujuan akhir dari Presiden Xi dan dirinya. Ia menyebutkan bahwa China akan segera memasok magnet dan logam langka, sementara AS akan kembali membuka akses bagi mahasiswa China ke universitas-universitas AS.
“KITA MENDAPATKAN TARIF TOTAL 55%, CHINA MENDAPATKAN 10%,” tulis Trump dengan huruf kapital.
Di sisi lain, harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 4% pada Rabu sore, dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Reuters melaporkan bahwa AS sedang mempersiapkan evakuasi sebagian staf kedutaannya di Irak karena meningkatnya risiko keamanan.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






