Proyeksi Harita Nickel (NCKL) soal Harga Nikel
JAKARTA, investor.id – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel memproyeksikan, penurunan harga nikel yang terjadi saat ini sudah menyentuh level paling bawah (bottom).
Jika merujuk data real time Trading Economics, Rabu (18/6/2025), harga nikel terakhir kali dilihat telah mengalami pertumbuhan sebesar US$ 62 setara 0,36% ke level US$ 14.990 per ton.
Namun di London Metal Exchange (LME), harga nikel terpantau masih terkoreksi 0,96% di posisi US$ 14.924 per ton. Pelemahan harga yang belakangan ini terjadi masih dibayangi oleh kondisi oversupply.
Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan melihat, pergerakan harga nikel saat ini sebenarnya sudah jauh lebih stabil. “Di pasar LME harga nikel berada di kisaran US$ 15.000, bahkan sempat turun di bawah US$ 15.000. Tapi, kami melihat (harga) itu sudah bottom,” ucap Suparsin dalam paparan publik, Rabu (18/6/2025).
Berkaca dari harga nikel yang diperkirakan sudah bottom, Suparsin menuturkan, NCKL sebagai low-cost producer cukup optimistis dengan kinerja perusahaan pada tahun ini.
Proyek Berjalan
Keyakinan ini didukung oleh agresivitas NCKL dalam melanjutkan proyek berjalan untuk meningkatkan operasional dan kapasitas produksi. Tahun ini, NCKL mengestimasikan kapasitas produksi akan mencapai 60 ribu ton nikel dalam feronikel per tahun.
Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy menegaskan, NCKL akan terus melanjutkan proyek berjalan sebagai wujud komitmen perseroan untuk mencapai tingkat operasional yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan. “Saat ini, kami sedang membangun proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang ketiga dengan nama PT Karunia Permai Sentosa (KPS),” ujar Roy.
Di proyek PT KPS tersebut, NCKL membangun sebanyak 4 jalur yang sedang berjalan dari total 12 jalur yang diharapkan. Roy melaporkan bahwa jalur 1 dan 2 telah beroperasi penuh pada akhir Januari 2025, jalur 3 beroperasi penuh pada akhir Februari 2025, dan jalur 4 beroperasi penuh pada akhir Maret 2025.
“Jadi, sebanyak 4 dari total 12 jalur yang kami bangun sudah mulai berproduksi. Sementara 8 jalur sisanya masih dalam tahap konstruksi,” imbuhnya.
Sisa 8 jalur yang masih dalam tahap konstruksi tersebut ditargetkan tuntas pada kuartal III-IV tahun ini dan diperkirakan bakal memerlukan waktu sekitar 3-4 bulan untuk dapat beroperasi penuh.
Selanjutnya, NCKL akan memulai fase kedua dari PT KPS pada awal 2026. Adapun, total kapasitas PT KPS sendiri direncanakan mencapai 185.000 ton nikel dalam feronikel.
Selain PT KPS, Harita Nickel juga sedang mengerjakan pabrik PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM). Menurut Roy, pabrik tersebut akan mengolah kapur atau limestone menjadi quicklime.
“Pabrik pengolahan limestone menjadi quicklime ini akan menambah efisiensi dari sisi operasi. Karena awalnya, kami membeli quicklime dari pihak luar. Tapi, dengan adanya operasi dalam pabrik ini diharapkan dapat mengurangi biaya-biaya produksi karena quicklime ini akan diproduksi secara internal oleh grup kami,” terang Roy.
Hingga kuartal I-2025, NCKL mengungkapkan, telah menggelontorkan investasi sekitar US$ 70 juta untuk proyek PT CKM dengan progres konstruksi mencapai 42%.
Dari sisi pertambangan, selain mengandalkan suplai bijih nikel ore dari PT TBP dan PT Gane Permai Sentosa (GPS), NCKL juga mulai membuka tambang ketiganya bernama PT Gane Tambang Sentosa (GTS).
Kata Roy, saat ini tambang PT GTS dalam tahap persiapan. Namun, per Maret 2025 proses eksplorasi sudah dilakukan di 1.800 titik dengan total area yang dieksplorasi mencapai 438 hektare (ha).
“Kami ekspektasikan, PT GTS dapat mulai berproduksi pada tahun ini. Oleh karena bijih nikel ini lokasinya di pinggir laut sebelah selatan Pulau Obi, jadi transportasinya dilakukan menggunakan tug and barges dari PT GTS ke tempat pengolahan nikel yang berjarak kurang lebih 68 sampai 70 kilometer dari lokasi tambang kami,” tutupnya.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






