Jumat, 15 Mei 2026

Telkom (TLKM) Bersiap Spin Off Lagi, Saham sedang Diskon

Penulis : Jauhari Mahardhika
6 Aug 2025 | 13:24 WIB
BAGIKAN
Kantor PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). (Foto: Telkom)
Kantor PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). (Foto: Telkom)

JAKARTA, investor.id – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memutuskan untuk merevisi target pertumbuhan pendapatan selama 2025 dari low single digit menjadi flat, menyusul lemahnya kinerja perseroan pada semester I-2025. Hal itu terungkap dalam earnings call bersama para analis.

“Manajemen Telkom (TLKM) mengadakan earnings call kinerja kuartal II-2025 pada Selasa sore (5/8). Ada beberapa catatan penting,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin dalam ulasannya, Rabu (6/8/2025).

Menurut dia, revisi top line yang lebih soft tersebut juga berdampak pada penurunan ekspektasi margin EBITDA dari target awal di kisaran 50-52% menjadi 50%, dibandingkan semester I-2025 yang sebesar 49,5%.

ADVERTISEMENT

Untuk mencapai target tersebut, TLKM harus membukukan pendapatan sebesar Rp 77 triliun pada semester II-2025, meningkat 5,4% dibandingkan realisasi pada semester I-2025 sebesar Rp 73 triliun dan naik 3% dibandingkan semester II-2024 yang mencapai Rp 74,7 triliun.

“Kami menilai target itu dapat tercapai (achievable), mengingat ada beberapa katalis positif untuk kinerja TLKM ke depannya,” sebut Melvin.

Manajemen TLKM, kata dia, memprediksi bahwa penurunan average revenue per user (ARPU) di segmen mobile ke level Rp 41,2 ribu telah mencapai puncaknya. Dengan begitu, tren penurunan ARPU mulai mereda.

Hal itu didukung oleh beberapa faktor, antara lain peluncuran starter pack Rp 35 ribu untuk 3 GB dibandingkan sebelumnya Rp 24 ribu untuk 6 GB, serta penghentian program Telkomsel Lite dan Telkomsel prabayar.

Kemudian, simplifikasi produk dari 6 ribu SKU menjadi 400 SKU dan sisa persediaan starter pack murah dari periode persaingan ketat pada kuartal III-2024 hingga kuartal I-2025 diperkirakan bakal habis pada akhir Agustus 2025.

Ke depan, manajemen TLKM mengekspektasikan bahwa tingkat daya beli masyarakat akan meningkat, sehingga jumlah konsumsi yang diindikasikan oleh data payload bakal meningkat, meski harga jual naik.

Spin Off dan Target Harga Saham 

Di sisi lain, terkait persiapan strategi bisnis FiberCo menyusul pembentukan Infranexia (PT Telkom Infrastruktur Indonesia) sebagai entitas infrastruktur fiber, TLKM berencana melakukan spin off tahap pertama pada kuartal IV-2025, dengan target spin off lebih dari 50% terhadap total aset dan bisnis fiber terpilih milik TLKM akan dialihkan ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia.

Selanjutnya, manajemen TLKM tengah mengkaji beberapa aset fiber, yang saat ini hanya digunakan oleh internal, untuk dapat dibuka aksesnya kepada pihak eksternal. Ini dapat meningkatkan utilisasi fiber.

Meski demikian, manajemen masih mengkaji dampak setiap pembukaan akses fiber kepada pihak eksternal terhadap bisnis IndiHome. “Kami menilai langkah ini dapat meningkatkan persaingan pada bisnis segmen fixed broadband dari sisi service provider maupun penyedia infrastruktur,” ungkap Melvin.

Dia pun menilai kinerja terburuk TLKM telah terlewati pada kuartal II-2025 dan ke depan akan membaik. Itu direspons positif oleh pasar.

“Progres dari pemulihan – yang diindikasikan dari peningkatan ARPU dan stabilisasi jumlah pelanggan – menjadi hal yang perlu dicermati dan dipantau oleh investor, sebab akan menjadi faktor kunci yang menentukan pemulihan harga saham TLKM,” pungkasnya.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian mengungkapkan, Telkom (TLKM) memiliki valuasi yang menarik dengan EV/EBITDA trailing 12 bulan (trailing twelve months/TTM) sebesar 4,1 kali atau diskon 11,5% dibandingkan para pesaingnya.

“TLKM juga berpotensi re-rating lebih lanjut karena menawarkan ROAE 2025 sebesar 15,6% dibandingkan para pesaingnya yang rata-rata sebesar 14,9%,” tulis Jonathan dan Jason dalam risetnya.

Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500. Target harga tersebut mencerminkan EV/EBITDA 2025 sebesar 5,2 kali.

Selain valuasi yang terdiskon, imbal hasil dividen (dividend yield) TLKM terbilang menarik. Risiko utamanya jika terjadi persaingan yang makin intensif, jumlah pelanggan yang lebih rendah dari perkiraan, dan perang harga di segmen fixed broadband (FBB).

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia