Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 29 Agustus 2025: Melemah
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Jumat (29/8/2025), menjelang rilis data inflasi AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, Rupiah hari ini melemah sebesar 17,5 poin (0,11%) ke level Rp 16.370 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,2% di level 98.
Sedangkan pada perdagangan Kamis (29/8/2025), mata uang rupiah sempat menguat sebesar 15,5 poin (0,09%) ke level Rp 16.352,5.
Dikutip dari Reuters, pasar tengah menanti data inflasi PCE pada hari ini. Ditambah lagi, laporan ketenagakerjaan pekan depan akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed pada pertemuan September.
Meski demikian, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tercatat berpotensi turun 2% sepanjang Agustus. Sentimen pelemahan dipicu meningkatnya peluang The Fed, memangkas suku bunga pada bulan depan, di tengah sorotan terhadap independensi kebijakan moneter Negeri Paman Sam.
Kekhawatiran kian memuncak setelah Presiden AS Donald Trump berupaya memperbesar pengaruhnya atas The Fed, termasuk dengan langkah hukum untuk memberhentikan Gubernur The Fed, Lisa Cook. Cook menolak upaya tersebut dan mengajukan gugatan, menegaskan presiden tidak memiliki kewenangan memberhentikan anggota dewan gubernur.
Trump vs The Fed
Polemik ini mempertegas ketegangan lama antara Trump dan The Fed. Trump sebelumnya kerap mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell karena dianggap lambat memangkas suku bunga.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, berada di level 97,917, turun hampir 10% sejak awal tahun. Euro stabil di US$1,1675, sterling di US$1,3509, yen Jepang di 146,97 per dolar, dan dolar Australia di US$0,6533.
Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga September sebesar 86%, naik dari 63% sebulan sebelumnya, menurut CME FedWatch. Investor juga memprediksi total penurunan lebih dari 100 basis poin hingga pertengahan 2026.
Meski pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2025 lebih kuat dari perkiraan, outlook fiskal yang memburuk, risiko inflasi, serta potensi terganggunya independensi The Fed membuat investor berhati-hati. Data inflasi PCE dan laporan ketenagakerjaan pekan depan akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed pada pertemuan September.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






