Rupiah Siap Balik Arah
JAKARTA, investor.id - Mata uang rupiah (IDR) mengawali awal pekan dengan pelemahan terhadap dolar AS (USD) pada Senin, 15 September 2025.
Rupiah ditutup melemah 41 point terhadap dolar AS pada perdagangan Senin sore (15/9), setelah sebelumnya sempat melemah 55 point di level Rp 16.416 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.375.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan ditutup menguat di rentang Rp 16.370 - Rp 16.420," ungkap pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/9/2025).
Pelemahan rupiah di awal pekan terjadi seiring tensi geopolitik yang kembali memanas, salah satunya setelah Ukraina meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur minyak Rusia, termasuk terminal ekspor terbesarnya, Primorsk, dan kilang utama Kirishinefteorgsintez.
Serangan tersebut berpotensi menghentikan produksi minyak Rusia dalam jumlah besar, dan dapat memicu potensi gangguan pasokan, terutama untuk pasar utama Moskow, yaitu India dan China.
Ibrahim mengungkapkan, fokus pasar kini tertuju pada upaya AS untuk meredakan perang Rusia-Ukraina, meskipun Moskow pada hari Jumat lalu mengisyaratkan bahwa perundingan gencatan senjata dengan Ukraina telah terhenti.
Selain itu, pasar juga mengamati perkembangan dari langkah AS mendesak negara-negara G-7 untuk menerapkan tarif perdagangan yang lebih tinggi terhadap China dan India.
"Pembatasan yang lebih ketat dari negara-negara Barat terhadap pembelian minyak Rusia akan semakin membatasi pasokan global, dan tampaknya kemungkinan besar terjadi mengingat perang antara Moskow dan Kyiv belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir," Ibrahim menyoroti.
Adapun data ekonomi terbaru AS yang memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Seperti diketahui, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS di bulan Agustus mengonfirmasi bahwa inflasi utama negara itu masih sedikit tinggi, dan Nonfarm Payrolls (NFP) hampir terhenti di bulan Agustus dan pertumbuhan lapangan kerja direvisi turun tajam.
Klaim Pengangguran Awal di AS juga telah naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Pada saat yang sama, tekanan harga di tingkat produsen telah turun.
"Secara keseluruhan, indikator-indikator ini telah menutupi kekhawatiran inflasi yang The Fed takutkan selama ini dan menggarisbawahi bahwa risiko penurunan lapangan kerja semakin meningkat, sehingga pemangkasan suku bunga The Fed 25 basis point minggu ini hampir pasti terjadi," papar Ibrahim.
Sentimen Domestik
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






