Jumat, 15 Mei 2026

Ramalan Arus Modal Asing Tahun 2026 dari Menkeu Purbaya

Penulis : Prisma Ardianto / Ichsan Ali
20 Sep 2025 | 08:02 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers kepada awak media usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). (BPMI Setpres/Kris)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers kepada awak media usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). (BPMI Setpres/Kris)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memandang bahwa arus modal asing yang masuk ke Indonesia akan tetap mengalir deras pada tahun 2026, seiring pemangkasan BI Rate dan fed funds rate (FFR). Keyakinan ini seiring dengan prospek cerah dari perekonomian Indonesia.

“Jadi ketika kita ciptakan prospek ekonomi yang bagus, (arus modal) asing akan cenderung masuk ke sini,” kata Purbaya dalam pernyataan pers usai bertemu Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (19/9/2025) malam.

Dia menjelaskan, pasar keuangan di Indonesia akan tetap dipandang menarik karena stabilitas dan prospek perekonomian Indonesia dijaga baik. Ini menjadi pertimbangan penting bagi seorang investor untuk menanamkan dananya di suatu negara, alih-alih hanya melihat besaran imbal hasil (yield).

"Jadi biasanya mereka masuk ke sini bukan hanya yield aja, tapi juga mencari stabilitas. Walaupun yield-nya misalnya selisihnya lebih dikit dibanding di luar, tapi kalau betul-betul stabil dan ada potensi penguatan nilai tukar, kalau ekonominya bagus, orang masuk ke sini," urai Purbaya.

ADVERTISEMENT

Dia bilang, pemerintah juga tak khawatir penurunan yield surat berharga negara (SBN) ke depan akan membuat para investor kabur dan memindahkan dananya ke luar negeri. Sebab, nilai tukar rupiah saat ini relatif stabil dan tetap akan dijaga seperti itu, paralel dengan prospek perekonomian dalam negeri.

Ramalan Arus Modal Asing Tahun 2026 dari Menkeu Purbaya
Tren suku bunga acuan (BI Rate). (Ilustrasi: Investor Daily)

Dengan skenario seperti itu, penurunan yield akan terkompensasi dengan potensi gain dari penguatan nilai tukar rupiah. Ini juga yang jadi keyakinan pemerintah bahwa arus modal asing tetap akan mengalir deras ke Indonesia pada tahun depan.

“Jadi kalau stabil aja mereka suka, apalagi kalau ada ekspektasi rupiah menguat, jadi Anda gak usah takut. Selama kita bisa menciptakan prospek pertumbuhan ekonomi yang bagus, mereka akan masuk ke sini,” beber Purbaya.

Arus Modal Asing

Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 September 2025 memutuskan untuk memangkas BI Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Dengan demikian, BI telah cukup agresif dengan memangkas BI Rate sebanyak satu kali pada 2024 dan lima kali pada 2025. Total penurunan sejak puncaknya sebesar 6,25% sudah mencapai 150 basis poin (bps).

Sementara itu, Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan (federal funds rate/FFR) sebesar 25 basis poin menjadi di kisaran 4%–4,25%. Keputusan ini diumumkan lewat pernyataan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru.

Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menilai bahwa secara umum pemangkasan suku bunga The Fed memberikan angin segar terhadap arus modal asing ke berbagai saham big cap dan surat utang negara (SUN).

“Secara umum atau secara historikal dari pemangkasan suku bunga The Fed ini sebenarnya berdampak positif terhadap arus modal, khususnya investor asing,” kata Felix dalam Investor Market Opening pada Kamis (18/9/2025).

Sementara berdasarkan laporan BI pada Jumat (19/9/2025), rupiah dibuka pada level (bid) Rp Rp 16.550 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun naik ke 6,29%.

Arus modal asing tercatat keluar Rp 8,12 triliun pada 15–18 September 2025. Secara rinci, terdiri dari jual neto sebesar Rp 5,49 triliun di pasar SBN dan Rp 2,79 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto sebesar Rp 0,16 triliun di pasar saham.

Sedangkan selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen s.d. 18 September 2025, asing tercatat jual neto sebesar Rp 59,73 triliun di pasar saham dan Rp 119,62 triliun di SRBI, serta beli neto sebesar Rp 41,82 triliun di pasar SBN.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia