Harga Emas Kian Menggila, Terus-Terusan Rekor
JAKARTA, investor.id - Harga emas kian menggila dan terus-terusan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru pada Selasa (30/9/2025). Penguatan itu terjadi di tengah ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS) dan kebijakan The Fed.
Harga emas hari ini terlihat menanjak 0,82% pada saat berita ditulis, setelah sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 3.871,72 di awal perdagangan.
Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha mengatakan, harga emas bertahan di level tinggi dan menegaskan tren bullish yang masih solid. Kondisi teknikal saat ini tetap mendukung tren bullish harga emas. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa harga emas masih bergerak dalam tren positif.
“Jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi menguji level US$ 3.875 dalam waktu dekat. Namun, apabila harga gagal mempertahankan momentum, area US$ 3.806 bisa menjadi target penurunan jangka pendek,” ungkap Andy dalam risetnya, Selasa (30/9/2025).
Dari sisi fundamental, Andy mengatakan, harga emas terdorong oleh sentimen pelemahan Dolar AS yang tertekan oleh ketidakpastian politik. Risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) AS memunculkan kekhawatiran baru karena berpotensi menunda rilis data ekonomi penting, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) September yang disusun oleh Bureau of Labor Statistics (BLS).
Bloomberg melaporkan bahwa jika shutdown terjadi, BLS tidak akan merilis data ekonomi, sehingga pasar kehilangan salah satu indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed.
Sementara itu, pandangan dari para pejabat The Fed memberikan warna yang beragam terhadap arah kebijakan ke depan. Alberto Musalem dari The Fed St. Louis menegaskan bahwa ekspektasi inflasi masih ‘cukup tinggi’, meskipun ia mengakui adanya risiko pelemahan di pasar tenaga kerja.
John Williams dari The Fed New York menyatakan, kebijakan moneter saat ini sudah cukup restriktif dan mampu memberikan tekanan ke bawah pada inflasi, dengan catatan pasar tenaga kerja memang perlahan melemah. Sebelumnya, Beth Hammack dari The Fed Cleveland juga mengingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan tren pergerakannya tidak sesuai dengan target disinflasi.
Ketegangan Geopolitik
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






