Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Kian Menggila, Terus-Terusan Rekor

Penulis : Indah Handayani
30 Sep 2025 | 13:37 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas
Sumber: Antara
ilustrasi harga emas Sumber: Antara

JAKARTA, investor.id - Harga emas kian menggila dan terus-terusan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru pada Selasa (30/9/2025). Penguatan itu terjadi di tengah ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS) dan kebijakan The Fed.

Harga emas hari ini terlihat menanjak 0,82% pada saat berita ditulis, setelah sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 3.871,72 di awal perdagangan.

Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha mengatakan, harga emas bertahan di level tinggi dan menegaskan tren bullish yang masih solid. Kondisi teknikal saat ini tetap mendukung tren bullish harga emas. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan bahwa harga emas masih bergerak dalam tren positif.

ADVERTISEMENT

“Jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi menguji level US$ 3.875 dalam waktu dekat. Namun, apabila harga gagal mempertahankan momentum, area US$ 3.806 bisa menjadi target penurunan jangka pendek,” ungkap Andy dalam risetnya, Selasa (30/9/2025).

Dari sisi fundamental, Andy mengatakan, harga emas terdorong oleh sentimen pelemahan Dolar AS yang tertekan oleh ketidakpastian politik. Risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) AS memunculkan kekhawatiran baru karena berpotensi menunda rilis data ekonomi penting, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) September yang disusun oleh Bureau of Labor Statistics (BLS).

Bloomberg melaporkan bahwa jika shutdown terjadi, BLS tidak akan merilis data ekonomi, sehingga pasar kehilangan salah satu indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, pandangan dari para pejabat The Fed memberikan warna yang beragam terhadap arah kebijakan ke depan. Alberto Musalem dari The Fed St. Louis menegaskan bahwa ekspektasi inflasi masih ‘cukup tinggi’, meskipun ia mengakui adanya risiko pelemahan di pasar tenaga kerja.

John Williams dari The Fed New York menyatakan, kebijakan moneter saat ini sudah cukup restriktif dan mampu memberikan tekanan ke bawah pada inflasi, dengan catatan pasar tenaga kerja memang perlahan melemah. Sebelumnya, Beth Hammack dari The Fed Cleveland juga mengingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan tren pergerakannya tidak sesuai dengan target disinflasi.

Ketegangan Geopolitik

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia