Saham Emiten Grup Djarum Lagi Murah Mau Diserok, Laba Gak Kira-kira
JAKARTA, investor.id – Saham emiten Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA selalu diparkir merah dari 6-13 Februari 2026. Dalam sebulan terakhir, saham emiten bank swasta ini minus 10,28% dengan investor asing membukukan net sell Rp 15,59 triliun.
Baru-baru ini, manajemen BCA (BBCA) mengumumkan rencana untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan dengan dana sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun.
“Perseroan bermaksud untuk melaksanakan buyback dalam rangka mendukung stabilitas pasar modal Indonesia pada tahun 2026, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan tingkat pengembalian yang lebih optimal bagi para pemegang saham,” sebut manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi belum lama ini.
Perseroan akan meminta persetujuan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang akan digelar pada 12 Maret 2026.
“Periode pelaksanaan buyback 12 bulan sejak disetujuinya rencana buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap manajemen BBCA.
Secara valuasi, saham Bank Central Asia lagi murah dibandingkan biasanya. Dengan rasio price to book value (PBV) 3,15, di bawah -1 PBV standard deviation rata-rata 5 tahun terakhir 4,17 kali, dan juga -2 PBV standard deviation rata-rata 5 tahun terakhir 3,67 kali.
BBCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,53 triliun pada 2025, tumbuh 4,9%.
Sementara itu, Samuel Sekuritas mengungkapkan bahwa manajemen BBCA terus menjalankan strategi perbankan transaksional, pendanaan berbasis CASA, dan bisnis korporatnya dengan baik, yang mendukung pertumbuhan laba yang stabil.
“Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan pinjaman tahun 2026 sebesar 10-11%, NIM sebesar 5,4-5,6%, dan biaya kredit sebesar 40-50 bps, dibandingkan dengan pertumbuhan pinjaman tahun fiskal 2025 sebesar 7,7% yoy, NIM sebesar 5,7%, dan biaya kredit sebesar 42 bps,” sebut Samuel Sekuritas dalam risetnya baru-baru ini.
Meskipun persaingan yang berkelanjutan untuk peminjam kelas atas dan imbal hasil aset yang lebih rendah tetap menjadi risiko jangka pendek, hal ini diimbangi oleh basis CASA BBCA yang dominan, pengendalian biaya yang disiplin, dan momentum pendapatan yang solid.
Oleh karena itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA dengan target harga Rp 8.600, yang menyiratkan PBV 2026 sebesar 3,4x dan didukung oleh keberlanjutan ROE di atas 20%.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






