Harga Bitcoin (BTC) Tergelincir, tapi Ada Sinyal Akumulasi
JAKARTA, investor.id – Pasar kripto turun tipis pada perdagangan Selasa (17/2/2026) pagi, dengan harga Bitcoin (BTC) hari ini tergelincir, meski gelombang akumulasi besar dan sinyal teknikal membuka peluang reli dalam jangka pendek.
Berdasarkan data Coinmarketcap pukul 06.05 WIB, kapitalisasi pasar kripto global melemah 0,06% menjadi US$ 2,35 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini terlihat turun 0,49% ke US$ 68.585 per koin atau sekitar Rp 1,15 miliar (kurs Rp 16.838) pada saat berita ini ditulis.
Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar di pasar, malah terkerek 0,19%. Dengan Ethereum melonjak 1,15% ke US$ 1.989, XRP naik tipis 0,01% ke US$ 1,48, Binance (BNB) naik 1,62% ke US$ 625. Sedangkan Solana (SOL) menguat 0,63% ke US$ 85,7 dan Dogecoin (DOGE) terkoreksi 2,65% ke US$ 0,1.
Dikutip dari harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah muncul gelombang akumulasi besar yang mendorong analis membuka peluang kenaikan menuju area US$ 80.000–US$ 84.000 dalam jangka pendek.
Pada awal perdagangan Senin, Bitcoin sempat terkoreksi tajam ke bawah US$ 68.000, setelah reli menembus US$ 70.000 pada akhir pekan. Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Data order book menunjukkan posisi bid (permintaan beli) yang agresif, sementara data on-chain mengindikasikan peningkatan akumulasi jangka panjang.
Analis kripto Mark Cullen menyebut harga Bitcoin berpotensi bergerak menuju area ‘CME gap’ awal Februari di kisaran US$ 80.000 – 84.000.
CME gap terbentuk ketika kontrak berjangka Bitcoin di Chicago Mercantile Exchange (CME) tutup pada akhir pekan dan dibuka kembali pada harga berbeda, sehingga menyisakan celah harga tanpa volume transaksi.
Secara historis, harga Bitcoin kerap kembali ke area tersebut untuk ‘mengisi’ gap. Sejak Agustus 2025, sembilan dari sepuluh CME gap telah tertutup. Saat ini, area US$ 80.000 – 84.000 menjadi celah teknikal utama yang belum tersentuh.
Posisi Bid
Data yang dibagikan trader kripto Dom menunjukkan terdapat sekitar US$ 596 juta posisi bid dalam rentang 0–2,5% dari harga saat ini, dibandingkan hanya US$ 297 juta posisi ask (jual). Ketimpangan hampir 2:1 ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Kondisi tersebut mencerminkan permintaan jangka pendek yang jauh lebih kuat dibandingkan pasokan. Jika bertahan, situasi ini dapat menopang tren kenaikan harga.
Dom juga mencatat bahwa minat beli sempat melemah saat harga anjlok. Namun, setelah Bitcoin sempat menyentuh area di bawah US$ 60.000, permintaan kembali meningkat di level rendah, mengindikasikan minat akumulasi di harga diskon.
Data dari CryptoQuant menunjukkan permintaan dari alamat yang dikategorikan sebagai “akumulator” mencapai rekor baru sekitar 372.000 BTC pada Minggu. Sebagai perbandingan, pada September 2024 angka tersebut hanya sekitar 10.000 BTC.
Analis kripto Darkfost menjelaskan bahwa alamat akumulator disaring dengan kriteria ketat, antara lain tidak memiliki arus keluar (outflow), menerima beberapa kali arus masuk, memenuhi ambang batas saldo minimum, aktif setidaknya sekali dalam tujuh tahun terakhir, serta bukan dompet bursa, penambang, maupun smart contract.
Sementara itu, distribusi pemegang jangka panjang (long-term holder/LTH) dalam periode 30 hari juga turun di bawah 100.000 BTC, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata di atas 1 juta BTC pada November 2025. Penurunan distribusi ini menandakan tekanan jual dari pemegang jangka panjang mulai mereda.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





