Moody’s Tekan Pasar SBN, Yield 10 Tahun Bertahan Tinggi
JAKARTA, investor.id – Memasuki pekan keempat Februari 2026, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih dibayangi tekanan dan kehati-hatian para pelaku pasar. Perubahan outlook kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dari stabil menjadi negatif disebut menjadi pemicu utama meningkatnya persepsi risiko, yang tercermin pada pergerakan yield SBN tenor 10 tahun yang bertahan di level tinggi di kisaran 6,38%–6,45%.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mencermati, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar SBN masih berada pada fase konsolidasi dengan volatilitas yang relatif tinggi. Menurutnya, tekanan arus keluar dana asing sejak awal tahun membuat investor domestik lebih selektif dalam mengambil posisi, sementara investor global menuntut premi risiko lebih tinggi.
“Yield yang bergerak stabil tetapi relatif tinggi mencerminkan pasar belum sepenuhnya pulih dari tekanan outflow. Investor masih mencermati efek perubahan outlook oleh Moody’s dan perkembangan arah suku bunga global, terutama ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve,” ujar Yusuf kepada Investor Daily dikutip, Senin (23/2/2026).
Selain itu, sambung dia, faktor geopolitik, prospek fiskal domestik, serta perkembangan indeks global seperti penyesuaian oleh MSCI Inc. juga memengaruhi sentimen terhadap aset berdenominasi rupiah.
Terkait keputusan pemerintah tidak menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada pekan depan, Yusuf menuturkan, hal tersebut tidak berkaitan dengan melemahnya minat pasar. Melainkan, keputusan tersebut murni bagian dari strategi pengelolaan pembiayaan yang telah direncanakan Kementerian Keuangan RI.
“Ini bukan isu permintaan yang lemah. Pemerintah memang menerapkan jadwal penerbitan yang fleksibel untuk menjaga keseimbangan pasar, termasuk memberi jeda antara lelang reguler dan penerbitan SBN ritel. Pada lelang terakhir, realisasi penerbitan justru melampaui target indikatif,” ungkapnya.
Menurut Yusuf, kondisi pasar saat ini memang belum sepenuhnya kondusif, tetapi belum berada pada situasi yang mengancam pembiayaan negara. Meski, tidak melihat penurunan minat sebagai krisis, sulit dipungkiri, ada faktor struktural yang membuat permintaan SBN cenderung melemah belakangan ini.
Dari sisi eksternal, Yusuf melihat, ketidakpastian global dan suku bunga tinggi di negara maju membuat investor asing menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menahan aset emerging markets seperti Indonesia.
Sementara dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap prospek fiskal, kebutuhan pembiayaan yang meningkat akibat besarnya utang jatuh tempo tahun ini, serta persepsi risiko kebijakan turut menekan sentimen investor. “Dalam kondisi ini, peran investor domestik dan stabilisasi pasar oleh Bank Indonesia sangat penting untuk mencegah volatilitas yang berlebihan,” jelasnya.
Meski permintaan jangka pendek mengalami moderasi, Yusuf berpendapat, penerbitan SBN pada 2026 secara keseluruhan justru cenderung meningkat dibandingkan tahun lalu didorong oleh kebutuhan refinancing yang lebih besar serta pembiayaan defisit APBN.
Dengan strategi penerbitan yang terdiversifikasi antara pasar institusi dan ritel, serta kuatnya basis investor domestik, Yusuf optimistis, pasar SBN Indonesia akan stabil dalam jangka menengah.
“Jika tekanan global mereda dan suku bunga global mulai turun, yield SBN berpotensi menurun dan permintaan investor akan pulih secara bertahap. Fundamentally, pasar SBN Indonesia masih memiliki daya tahan,” pungkasnya.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






