Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi sejak 2022
NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia sempat melonjak hampir 7% pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026), mencapai level tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini dipicu oleh pemangkasan pasokan oleh Arab Saudi dan sejumlah negara anggota OPEC di tengah meluasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 6,27 (6,8%) menjadi US$ 98,96 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 3,87 (4,3%) menjadi US$ 94,77 per barel.
Level penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2022. Bahkan setelah harga terkoreksi dalam perdagangan setelah penutupan, kedua acuan minyak dunia itu masih tercatat melonjak lebih dari 35% sejak perang Iran dimulai.
Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak sempat melonjak tajam. Brent sempat menyentuh US$ 119,50 per barel, sedangkan WTI mencapai US$ 119,48 per barel, yang menjadi harga intraday tertinggi sejak Juni 2022. Level tersebut mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), yakni sekitar US$ 147 per barel pada 2008.
Namun setelah penutupan pasar, harga minyak berbalik melemah. Pelemahan terjadi setelah muncul kabar adanya percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Harga bahkan sempat turun lebih dari 5% setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia untuk meredam lonjakan harga energi global.
Sebelumnya, Putin menyatakan Rusia siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa guna membantu menstabilkan pasar energi.
Kenaikan harga minyak juga didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Perang yang melibatkan Iran disebut telah membuat Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, praktis terhenti.
Situasi semakin memanas setelah kelompok garis keras Iran menggelar aksi besar-besaran untuk menunjukkan dukungan kepada pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang dianggap memperkecil peluang berakhirnya perang dalam waktu dekat.
Di sisi lain, perusahaan minyak raksasa Arab Saudi Saudi Aramco mulai memangkas produksi di dua ladang minyaknya. Langkah tersebut mengikuti pengurangan pasokan yang juga dilakukan oleh Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar, di tengah hambatan pengiriman dan keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Meski demikian, sebuah kapal tanker yang dioperasikan perusahaan Yunani dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan membawa minyak mentah Saudi. Hal ini menunjukkan sebagian kapal komersial masih mencoba melintasi jalur strategis tersebut.
Pembukaan Selat Hormuz
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





