Harga Minyak Dunia Berbalik Turun Saat Pasar Pantau Perang
SINGAPURA, investor.id – Harga minyak mentah dunia berbalik arah dan mengalami penurunan pada perdagangan di Asia, Selasa (31/3/2026). Pergerakan ini terjadi seiring para pelaku pasar yang tengah mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengenai kemungkinan pengakhiran operasi militer terhadap Iran.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal seperti dikutip CNBC internasional, Trump menyatakan ia bersedia menghentikan operasi AS terhadap Iran, bahkan jika Selat Hormuz tetap ditutup. Keputusan ini diambil karena upaya memaksa Iran membuka kembali jalur krusial tersebut dikhawatirkan justru akan memperpanjang konflik.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 0,72% ke level US$ 102,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga terkoreksi 1% menjadi US$ 111,55 per barel.
Kepala Strategi Geopolitik BCA Research Matt Gertken menilai, keinginan Trump untuk melakukan pengeboman skala besar secara terus-menerus terhadap Iran sebenarnya cukup rendah. Ia melihat ancaman-ancaman terbaru Trump lebih sebagai upaya gertakan untuk memaksa Iran segera menyepakati perjanjian.
"Trump membutuhkan, setidaknya, penyerahan uranium yang diperkaya tinggi. Itu adalah sesuatu yang bisa diberikan Iran sebagai imbalan atas kelangsungan rezim mereka," ujar Gertken, Selasa. Ia juga menambahkan, peluang AS untuk melakukan invasi darat skala penuh hampir tidak ada.
Ancaman Eskalasi dalam Dua Minggu
Meski menunjukkan sinyal ingin menarik diri, Trump tetap memberikan tenggat waktu. Jika kesepakatan tidak tercapai dalam dua minggu, ia mengancam akan menargetkan elemen inti rezim Iran yang dapat menyebabkan kerusakan kolateral lebih besar.
Sebelumnya lewat unggahan di media sosialnya Truth Social, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi sipil termasuk pembangkit listrik, fasilitas minyak, hingga instalasi desalinasi air jika Iran tidak membuka Selat Hormuz dan menyetujui perdamaian.
Perang yang kini memasuki minggu kelima ini terus memicu ketegangan di kawasan. Pada Selasa pagi, sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang sedang bersandar di pelabuhan Dubai dihantam serangan hingga memicu kebakaran. Otoritas Dubai mengonfirmasi api telah berhasil dipadamkan.
Insiden ini mengindikasikan Iran kian memperketat cengkeramannya di sekitar Selat Hormuz, bahkan menargetkan kapal-kapal yang berada tepat di luar jalur perairan tersebut.
Hingga saat ini, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang dalam kondisi normal mengangkut seperlima pasokan minyak dunia hampir terhenti total sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Para ahli memperingatkan opsi operasi darat untuk merebut Pulau Kharg (pusat ekspor 90% minyak Iran) akan sangat berisiko tinggi bagi AS dan dapat memperpanjang durasi perang.
Selat Hormuz sering dijuluki sebagai "arteri utama" ekonomi dunia. Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini menghubungkan produsen minyak utama di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait dengan pasar global. Sebelum konflik 2026 meletus, sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi jalur ini setiap harinya.
Penutupan jalur ini secara total oleh Iran sebagai taktik perang telah menyebabkan gangguan rantai pasok energi paling parah sejak Krisis Minyak 1973. Strategi "asimetris" yang dilakukan Iran, dengan menargetkan tanker di luar selat, dimaksudkan untuk menaikkan biaya asuransi pengiriman dan menciptakan tekanan inflasi global.
Bagi pemerintahan Trump, menyelesaikan konflik tanpa harus terlibat dalam perang darat yang mahal adalah prioritas utama untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik menjelang pemilu, meskipun hal itu berarti harus menoleransi penutupan jalur pelayaran untuk sementara waktu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





