Harga Minyak Berbalik Arah, Dipicu Sinyal Akhir Perang Iran
HOUSTON, investor.id – Harga minyak dunia berbalik turun pada perdagangan Selasa (31/3/2026), setelah muncul laporan bahwa Iran membuka peluang untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS), meski dengan sejumlah syarat.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Juni ditutup turun US$ 3,42 ke level US$ 103,97 per barel. Pelemahan ini dipicu laporan media, termasuk Bloomberg, yang menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian siap mengakhiri perang jika ada jaminan tertentu dari pihak internasional.
Sementara itu, harga minyak Brent untuk Mei, yang berakhir pada hari yang sama, justru melonjak US$ 5,57 (4,94%) ke US$ 118,35 per barel. Adapun minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun US$ 1,50 (1,46%) ke US$ 101,38 per barel.
Peralihan fokus investor dari kontrak Mei ke Juni menyebabkan likuiditas kontrak lama menurun tajam. Volume transaksi kontrak Mei tercatat hanya 18.652 lot, sekitar 30 kali lebih rendah dibandingkan kontrak Juni yang lebih aktif diperdagangkan.
Sepanjang Maret, harga minyak mencatat lonjakan luar biasa. Data LSEG menunjukkan kontrak Brent bulan berjalan melonjak hingga 64%, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1988. Sementara itu, WTI naik sekitar 52%, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Mei 2020.
Analis Again Capital John Kilduff mengatakan, pernyataan dari Iran langsung menekan harga minyak. Jika konflik benar-benar mereda, Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka, sehingga pasokan global meningkat dan premi risiko pada harga minyak akan berkurang.
“Jika permusuhan berhenti, pasokan akan kembali ke pasar dan mengikis lonjakan harga yang selama ini didorong faktor risiko,” ujarnya.
Selama empat pekan terakhir, harga minyak terus merangkak naik seiring eskalasi konflik Iran yang memicu gangguan besar pada infrastruktur energi di kawasan Teluk. Gangguan tersebut menyebabkan salah satu disrupsi pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah.
Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barel per hari pada Maret menjadi 21,57 juta barel per hari, level terendah sejak puncak pandemi Covid-19 pada Juni 2020. Penurunan ini dipicu pembatasan ekspor yang dipaksakan akibat konflik.
Meski demikian, pergerakan harga minyak sepanjang bulan sangat fluktuatif. Setiap sinyal deeskalasi dari Presiden AS Donald Trump kerap menekan harga, namun kembali naik akibat ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Faktor Pergerakan Pasar Minyak
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






