Harga Minyak Berbalik Arah, Dipicu Sinyal Akhir Perang Iran
Analis Gelber and Associates menilai, dengan harga minyak yang sudah menembus tiga digit, pergerakan pasar kini lebih dipengaruhi ekspektasi intervensi dan waktu pemulihan pasokan, bukan lagi gangguan baru.
Di sisi lain, Wakil Presiden Rystad Energy Lin Ye memperingatkan pasar semakin rentan terhadap krisis pasokan jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama. “Momentum kenaikan harga minyak berpotensi terus menguat seiring menipisnya cadangan penyangga pasar,” ujarnya.
Perdagangan pada Selasa juga berlangsung volatil, dengan harga minyak Brent sempat bergerak dari naik 5,7% hingga turun 1,3% dalam satu sesi.
Ketegangan geopolitik pun belum mereda sepenuhnya. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu, dan konflik bisa meningkat jika Iran tidak segera mencapai kesepakatan.
Bahkan, Korps Garda Revolusi Iran mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan AS di kawasan, termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, hingga Boeing.
Menanggapi hal tersebut, Gedung Putih menegaskan militer AS siap menghadapi potensi serangan.
Di lapangan, serangan terhadap kapal tanker juga terjadi. Kuwait Petroleum Corp melaporkan kapal tanker Al Salmi yang membawa hingga 2 juta barel minyak diserang di pelabuhan Dubai. Otoritas setempat turut memperingatkan potensi risiko tumpahan minyak di kawasan tersebut.
Meski ada sinyal diplomasi, ketidakpastian masih tinggi. Analis SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva, menilai bahkan jika konflik mereda, pemulihan infrastruktur energi akan memakan waktu, sehingga pasokan tetap ketat dalam jangka pendek.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






