Minggu, 21 Juni 2026

Rupiah Sulit Bangkit dari Tekanan, Sentimen Ini Jadi Penyebab

Penulis : Natasha Khairunisa
18 Jun 2026 | 17:39 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Ilustrasi uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi berisiko kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Jumat, 19 Juni 2026.

Pada perdagangan Kamis sore ini (18/6/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp 17.794 terhadap dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.764 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp 17.790 - 17.840 per dolar AS," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Kamis (18/6/2026).

ADVERTISEMENT

Ibrahim mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah masih berisiko terdampak optimisme pasar tentang kesepakatan damai AS-Iran, yang diharapkan dapat membuka kembali jalur ekspor energi utama di Selat Hormuz.

Rupiah juga diprediksi kembali melemah setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap di 3,50%-3,75%.

"Dalam pertemuan pertamanya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi, menekankan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga. The Fed juga menaikkan perkiraan inflasinya, mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dan meningkatkan nilai dolar AS," papar Ibrahim.

Dari sisi internal, nilai tukar rupiah diprediksi rentan melemah meski Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

"Investor global dan institusi tengah menahan diri sambil menunggu dua keputusan krusial dari MSCI untuk melihat apakah status Indonesia dipertahankan di emerging market dan apakah pembekuan konstituen akan dicabut," beber Ibrahim.

"Jika MSCI memutuskan penurunan peringkat. Terlebih lagi, pada pengumuman rebalancing sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan konstituen saham baru untuk Indonesia akibat kekhawatiran terkait struktur kepemilikan dan transparansi free float," imbuhnya.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 1 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 2 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 2 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 2 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 3 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia