Harga Minyak Brent Berbalik Naik, Ragukan Perdamaian AS dan Iran
Meski demikian, sejumlah isu krusial seperti program nuklir Iran masih ditunda pembahasannya. Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembiayaan senilai US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran.
Sejumlah analis memperkirakan arus minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Namun, harga minyak diperkirakan tidak akan langsung kembali ke level sebelum konflik karena permintaan energi mulai pulih dan persediaan global perlu diisi kembali.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk akan kembali normal pada akhir Juli, sementara produksi minyak mentah diproyeksikan pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang.
Di sisi lain, BNP Paribas menilai harga Brent sulit kembali ke level sebelum perang dan memperkirakan US$ 75 per barel akan menjadi batas bawah yang kuat dalam waktu dekat. Sebelum konflik pecah, harga Brent bergerak di kisaran US$ 60-70 per barel pada dua bulan pertama tahun ini.
Sementara itu, prospek permintaan dari China juga menjadi perhatian pasar. Laporan unit riset PetroChina memperkirakan konsumsi minyak China pada 2026 mencapai 753 juta ton, turun 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya seiring percepatan transisi energi dan tingginya harga minyak.
Di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, serangan drone Ukraina kembali menghantam kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam sepekan, menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





