Catatan Penting Pasar Saham RI
Di sisi lain, Liza menegaskan bahwa status Indonesia sebagai Emerging Market masih relatif aman. Sebab, penurunan penilaian hanya terjadi pada satu aspek aksesibilitas pasar, sementara sebagian besar indikator lainnya tetap memperoleh penilaian baik.
MSCI masih memberikan penilaian positif terhadap keterbukaan kepemilikan asing, pembatasan arus modal, kemudahan registrasi investor, regulasi pasar, infrastruktur perdagangan, serta ketersediaan instrumen investasi.
Menurut Liza, tantangan Indonesia saat ini lebih banyak berkaitan dengan tata kelola, transparansi, arus informasi, dan kualitas pembentukan harga saham. Sebaliknya, persoalan tersebut tidak berkaitan dengan ukuran pasar, likuiditas, akses investor asing, maupun infrastruktur perdagangan yang selama ini menjadi kekuatan utama pasar modal Indonesia.
“Klasifikasi MSCI ditentukan oleh tiga pilar utama, yaitu tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas pasar. Indonesia masih memenuhi kriteria ukuran dan likuiditas dengan sangat baik. Kapitalisasi pasar dan nilai transaksi harian Indonesia jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar negara Frontier Market,” katanya.
Karena itu, menurut dia, penurunan penilaian pada aspek information flow saja tidak cukup untuk memicu perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Meski risiko penurunan status dinilai rendah, dampak yang lebih realistis adalah meningkatnya risk premium yang diberikan investor global terhadap Indonesia.
Liza menilai temuan MSCI dapat memperkuat persepsi investor internasional bahwa meskipun valuasi saham Indonesia menarik, transparansi dan kualitas pembentukan harga masih menjadi isu yang harus diperhatikan.
“Indonesia mungkin terlihat murah dari sisi valuasi, tetapi transparansi dan kualitas price discovery masih menjadi perhatian investor global,” ujarnya.
Narasi tersebut dinilai sejalan dengan perkembangan pasar sepanjang tahun ini. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) hampir Rp 80 triliun sejak awal tahun, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi lebih dari 27% sepanjang 2026.
Selain itu, MSCI juga secara eksplisit menyoroti isu transparansi free float, munculnya pertanyaan mengenai pemegang saham pengendali akhir (ultimate controlling shareholders) di sejumlah emiten, serta pergerakan harga beberapa saham yang dinilai semakin tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Menurut Liza, laporan MSCI sebenarnya tidak menciptakan narasi baru. Sebaliknya, laporan tersebut memperkuat berbagai kekhawatiran yang selama beberapa bulan terakhir telah berkembang di kalangan investor institusi global.
“Laporan ini menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar pasar modal Indonesia saat ini bukan lagi ukuran pasar atau aksesibilitas, melainkan bagaimana meningkatkan tata kelola, transparansi, dan integritas pasar. Selama isu-isu tersebut belum terselesaikan, investor asing kemungkinan masih akan mempertahankan posisi underweight terhadap pasar saham Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






