Harga Minyak Brent Naik, tapi Ambruk Nyaris 8% Sepekan
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, harga minyak perlahan bergerak menuju level sebelum konflik pecah karena pasokan tambahan diperkirakan segera masuk ke pasar. “Meski harga belum kembali ke level sebelum perang, arahnya mengarah ke sana. Pasokan tambahan kemungkinan akan mulai mengalir dalam beberapa hari ke depan,” kata Flynn.
Menurut dia, antrean kapal tanker yang sempat tertahan dapat terurai lebih cepat apabila kerja sama antara Iran dan AS berjalan lancar.
Pasar juga menyoroti perkembangan diplomatik terbaru setelah pertemuan pejabat Iran dan AS yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss ditunda. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan penundaan tersebut tidak mendesak karena nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik telah ditandatangani secara digital oleh kedua pihak.
Para analis memperkirakan kesepakatan tersebut dapat membuka jalan bagi lebih dari 85 juta barel minyak yang selama ini tertahan di kawasan Teluk untuk kembali masuk ke pasar global. Selain itu, pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran diperkirakan akan menambah pasokan dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz. Meski demikian, normalisasi penuh arus pasokan dan produksi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan.
Citigroup memperkirakan pasar minyak berpotensi memasuki kondisi surplus dalam enam hingga 12 bulan mendatang. Dalam skenario dasarnya, harga minyak diproyeksikan turun ke kisaran US$ 60-65 per barel pada kuartal I-2027.
Sementara itu, Commerzbank menurunkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$ 80 per barel dari sebelumnya US$ 85 per barel. Kendati demikian, bank tersebut memperkirakan harga minyak masih bertahan di atas level sebelum konflik selama sebagian besar tahun depan.
Dari sisi produksi, Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan, ladang-ladang minyak negaranya siap kembali beroperasi penuh dan produksi akan meningkat secara bertahap hingga kembali ke tingkat normal.
Di tengah prospek tambahan pasokan tersebut, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap optimistis terhadap permintaan jangka panjang. Dalam laporan World Oil Outlook 2026, OPEC memperkirakan konsumsi minyak global meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030 dari 105,1 juta barel per hari pada 2025.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






