Jumat, 15 Mei 2026

Danantara Incar Perombakan Besar-besaran 800 Perusahaan Pelat Merah

Penulis : Grace El Dora
20 Mei 2025 | 21:35 WIB
BAGIKAN
Suasana depan kantor Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2025). (Foto: B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Suasana depan kantor Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/2/2025). (Foto: B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Dana kekayaan Indonesia Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sedang meninjau operasi lebih dari 800 perusahaan negara dan anak perusahaan sebagai bagian dari perombakan besar-besaran. Langkah ini kemungkinan akan melibatkan merger dan penutupan.

“Perusahaan milik negara telah membangun konglomerat mini mereka sendiri,” kata COO Danantara Dony Oskaria sebagaimana dana tersebut dikenal dalam sebuah forum Selasa (20/5/2025).

Ia mencontohkan PT Telkom Indonesia yang memiliki sekitar 200 anak perusahaan, pengelola bandara PT Angkasa Pura, dan operator kereta api PT Kereta Api Indonesia yang juga menjalankan unit mereka sendiri.

ADVERTISEMENT

Peninjauan tersebut ditargetkan rampung pada Oktober 2025. Rencananya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan melakukan klasifikasi berdasarkan sektor dan mengidentifikasi perusahaan yang berkinerja buruk. Masing-masing perusahaan akan menerima peta jalan (road map) berfokus pada optimalisasi bisnis yang mungkin mencakup investasi swasta.

Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah perusahaan milik pemerintah menjadi sekitar 200 perusahaan yang kompetitif dan berorientasi global, kata Dony.

Diluncurkan pada Februari 2025, Danantara merupakan bagian penting dari strategi Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan pertumbuhan tahunan hingga 8% selama masa jabatannya. Dana tersebut mengawasi portofolio luas perusahaan-perusahaan negara besar, termasuk bank-bank papan atas, perusahaan-perusahaan energi dan pertambangan. Para eksekutif mengatakan, Danantara pada akhirnya dapat mengelola aset senilai lebih dari US$ 1 triliun atau sekitar Rp 14 ribu triliun.

Dana tersebut harus mengatasi kesenjangan kinerja yang lebar di antara perusahaan-perusahaan negara. Sementara pemberi pinjaman negara telah membukukan laba, perusahaan-perusahaan seperti PT Garuda Indonesia dan PT Waskita Karya tetap terbebani oleh utang.

Danantara menargetkan dividen tahunan sebesar Rp 170 triliun (US$ 10 miliar) untuk investasi ulang, meskipun untuk tahun ini Danantara mungkin hanya menghasilkan sekitar Rp 120 triliun. "Kami masih dalam proses memilih proyek-proyek yang layak," ungkap Oskaria.

Awal bulan ini, Bloomberg melaporkan Danantara sedang dalam pembicaraan dengan Eramet SA dari Prancis untuk potensi investasi bersama di pabrik nikel.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia