Bahlil Duga Ada Unsur Kesengajaan Sehingga Indonesia Masih Impor Minyak
JAKARTA, investor.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia merupakan negara besar yang pemenuhan konsumsi energinya, utamanya minyak dan gas (migas), masih bergantung terhadap impor. Ia menduga, impor migas yang dilakukan Indonesia disebabkan adanya unsur kesengajaan.
Terkait hal ini, Bahlil dalam kesempatan tersebut enggan membeberkan oknum yang dimaksud. Hal ini diungkapkan Bahlil dalam acara Energi Mineral Forum 2025 di Kempinski Hotel, Jakarta, Senin (26/5/2025).
Awalnya Bahlil mengungkapkan, saat ini Kementerian ESDM tengah berupaya mewujudkan salah satu program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni kemandirian energi. "Asta Cita Bapak Presiden Prabowo yang telah dicanangkan itu minimal ada empat yang menjadi prioritas. Pertama itu adalah kemandirian pangan, kemudian kemandirian energi, makanan bergizi, dan hilirisasi," papar Bahlil, Senin.
Ia menerangkan, Ppemerintah akan berupaya menjadikan Indonesia menjadi negara yang swasembada energi seperti pada tiga dekade sebelumnya.
Diketahui, Indonesia sempat dinobatkan sebagai Macan Asia, di mana kala itu Indonesia surplus energi khususnya komoditas minyak dan gas (migas). Menurut Bahlil, pada 1996-1997 produksi minyak siap jual atau lifting minyak Indonesia pernah menembus di angka 1,5 juta barrel oil per day (BOPD), dengan angka konsumsi di dalam negeri per tahun sekitar 500 ribu BOPD. Bahkan pada periode tersebut, Indonesia pernah melakukan ekspor minyak.
Jika dibandingkan saat ini, kondisinya jauh berbalik. Di mana saat ini produksi minyak nasional hanya berada di rentang 500 ribu hingga 600 ribu BOPD. "Kita pada tahun 1996-1997 lifting minyak kita Itu mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta barrel per day dan konsumsi kita Hanya kurang lebih sekitar 500.000 barrel per day," kata dia.
"Kita ekspor waktu itu satu juta barrel per day. Hebat sekali waktu itu negara kita dan pendapatan negara kita 40%-45% Itu hasil daripada migas," terang Bahlil. Namun, pada akhirnya industri migas nasional mulai merosot, pasca terjadinya krisis ekonomi yang terjadi, dan perubahan fundamental regulasi.
Bahlil menyebut, adanya fenomena Indonesia kerap mengimpor migas diduga adanya unsur kesengajaan. Di mana, ada pihak yang sengaja membuat skema untuk menurunkan kinerja dari lifting minyak RI. Pada kesempatan yang sama, Bahlil menegaskan akan melawan berbagai upaya negatif yang ada, dan mewujudkan swasembada energi di Tanah Air.
"Pertanyaan berikut adalah Apa dengan penurunan lifting itu karena sudah tidak punya sumber daya alam? Atau ini sengaja diturunkan agar impor terus?" Papar Bahlil.
"Bapak Ibu semua saya jujur demi Allah menurut saya ini ada unsur kesengajaan by design," pungkasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






