Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Respons Lonjakan Tarif PBB di Sejumlah Daerah

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
18 Aug 2025 | 15:28 WIB
BAGIKAN
Ekonom sekaligus Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan merespons lonjakan tarif PBB di sejumlah daerah di Indonesia. (Foto: B-Universe/ Alfida Rizky Febrianna)
Ekonom sekaligus Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan merespons lonjakan tarif PBB di sejumlah daerah di Indonesia. (Foto: B-Universe/ Alfida Rizky Febrianna)

JAKARTA, investor.id – Ekonom merespons lonjakan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. PBB Pati, misalnya, naik 250% sedangakn PBB Jombang naik 400%. Ekonom menilai, hal ini terjadi akibat kian menyusutnya dana APBN untuk transfer ke daerah (TKD) yang mempersempit ruang fiskal daerah.

"Peran pemerintah daerah itu akan cenderung menyusut seiring dengan penurunan TKD yang ini mempersempit ruang fiskal di daerah. Dan ini kita akan melihat relevansi dengan pengalaman apa yang terjadi di kasus Pati akhir-akhir ini," ungkap Ekonom sekaligus Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan di Jakarta, Senin (18/8/2025).

Menurut Deni, lonjakan tarif PBB ini merupakan imbas dari efisiensi anggaran untuk pelaksanaan program prioritas pemerintah dalam skala besar, di tengah keterbatasan ruang fiskal dan upaya menjaga defisit APBN di bawah 3%.

ADVERTISEMENT

"Saran kami adalah ketika memaksakan program-program prioritas dalam skala yang besar, pemerintah sebaiknya perlu meninjau kembali desain pelaksanaan program-program prioritas tersebut dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas program-program tersebut dan menjaga stabilitas makroekonomi nasional," jelas Riandy.

Senada dengan Deni, Ekonom sekaligus Peneliti CSIS Riandy Laksono menambahkan, keringnya penerimaan daerah yang bersumber dari APBN memaksa pemerintah daerah mencari sumber-sumber penerimaan baru.

"Efisiensi itu mengena ke TKD. Jadinya penerimaan kering di daerah. Mau gak mau, mereka meningkatkan sumber-sumber lain. Menurut saya ini logical consequence dari efisiensi," tuturnya.

Oleh karenanya, Riandy mengusulkan agar pemerintah mengucurkan dana TKD sebagaimana porsi sebelumnya dan berhenti menahan belanja pemerintah, sehingga sumber-sumber penerimaan di daerah bisa kembali mengalir mendorong perekonomian daerah. 

"Saat ini makan bergizi gratis baru Rp 8 triliun. Saran saya, masih ada puluhan triliun yang lain, mending balikin saja ke daerah dan ke sumber-sumber infrastruktur. Dan perbolehkan lagi meeting di luar supaya hotel hidup lagi, daerah hidup lagi, dan infrastruktur juga jalan lagi," tandasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia