Kamis, 14 Mei 2026

Anomali Cuaca Akibat Pemanasan Global

Penulis : Antara
28 Jul 2013 | 05:26 WIB
BAGIKAN

BANDUNG- Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan Afif Budiyono mengatakan perubahan iklim dan anomali cuaca yang terjadi saat ini sebagai pengaruh dari pemanasan global.

"Atmosfer sekarang diindikasikan karena ada pemanasan global sehingga kasusnya iklim jadi bergeser atau berubah," kata Afif Budiyono di Kantor Lapan Jalan Junjunan Kota Bandung.

Anomali cuaca yang terjadi saat ini juga menimbulkan musim kemarau yang tetap sering turun hujan sehingga disebut musim kemarau basah.

"Istilahnya kalau musim kemarau seperti sekarang namanya kemarau basah. Persis seperti 2010," kata Afif Budiyono.

Menurutnya, penyebab lain pemanasan global semakin menjadi-jadi adalah aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar fosil secara berlebihan.

"Penyebabnya aktivitas manusia, misalnya penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan tidak terkontrol," katanya.

Kini sedang gencar dilakukan adalah pengereman emisi gas rumah kaca (GRK).

Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.

"Emisi GRK itu kebanyakan CO2, CA4. Kalau CO2 itu dari aktivitas manusia. Transportasi, industri, listrik, batu bara, dan lain-lain," kata dia.

Guna menekan pemanasan global yang terjadi, Afif menghimbau agar Indonesia turut berkontribusi menurunkan emisi bahan bakar.

"Indonesia harus berkontribusi untuk menurunkan emisi," kata Afif. (ant/hrb)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 54 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia