Core: Inflasi Bisa 7-9% Bila Harga Pertalite Rp 10.000 per Liter
JAKARTA, investor.id – Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memproyeksikan inflasi di 2022 akan berada di kisaran 5-6% jika harga energi bersubsidi tidak naik dan kenaikan harga di tingkat produsen (IHP) ditransmisikan secara minimal ke konsumen (IHK). Namun, jika pemerintah menaikkan harga pertalite menjadi Rp 10.000 per liter dari saat ini Rp 7.650 per liter, maka inflasi tahunan akan melambung menjadi 7-9%.
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan, tingginya inflasi akan menjadi biaya bagi perekonomian yang dapat menurunkan tingkat konsumsi, menaikkan tingkat kemiskinan, bahkan paling buruknya menyebabkan stagflasi di tengah pemulihan ekonomi pasca pandemi.
“Menahan harga pertalite pada posisi saat ini memang akan meningkatkan besaran subsidi dalam APBN dan menyebabkan pembengkakan defisit. Namun, defisit tersebut masih berada dalam kisaran yang lebih rendah dari target pemerintah. Dengan proyeksi defisit anggaran tahun 2022 masih berada pada kisaran target pemerintah, seharusnya biaya kompensasi untuk tidak menaikkan harga pertalite masih bisa dilakukan pemerintah,” kata Mohammad Faisal dalam keterangan resminya, Kamis (25/8/2022).
Faisal menambahkan, dengan kapasitas fiskal yang masih memadai dan masih ada ruang bagi pemerintah dalam menambah subsidi, pemerintah masih memungkinkan untuk tidak menaikkan harga pertalite tahun ini.
Baca Juga:
Harga BBM Jadi Naik? Ini Kata Menkeu“Jika mempertimbangkan risiko ekonomi dan risiko fiskal tahun 2022, maka kebijakan mempertahankan harga pertalite membawa risiko terhadap fiskal yang lebih kecil dibandingkan dengan risiko terhadap perekonomian. Fiskal masih sanggup menjadi shock absorber dari tekanan global terhadap perekonomian domestik. Namun, untuk langkah ke depan, diperlukan upaya serius pengendalian penggunaan BBM subsidi,” kata Faisal.
Pemerintah sendiri mencatat realisasi APBN hingga akhir Juli 2022 masih surplus sebesar Rp 106,1 triliun. Surplus itu terjadi karena pendapatan negara masih mengalami pertumbuhan yang baik dengan rincian pendapatan negara Rp 1.551 triliun atau tumbuh 21,2% (yoy), sedangkan belanja negara hanya tumbuh 13,7% (yoy) atau setara Rp 1.444,8 triliun.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





