BI: Pertumbuhan Ekonomi Belum Terlalu Kuat
JAKARTA, investor.id – Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 yang mencapai 5,44% (yoy) sudah sangat baik, namun belum tumbuh terlalu kuat atau optimal. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak terus mempererat koordinasi dan sinergi menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
Solikin mengatakan, gejolak ekonomi global masih diliputi ketidakpastian yang dipicu ketegangan geopolitik, naiknya harga komoditas, hingga inflasi yang meningkat. Faktor ini menyebabkan bank sentral (berbagai negara) meresponsnya dengan kebijakan hawkish atau lebih restriktif sisi kebijakan moneter.
"Di masa berat ini kita bisa tumbuh 5,4% di kuartal II. Itu prestasi luar biasa. Ekonomi tumbuh, bersyukur, namun ini belum kuat-kuat banget. Makanya, pertumbuhan ekonomi ini harus dijaga," ucap dia dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia Normalisasi Kebijakan Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia, Rabu (7/9/2022).
Adapun dampak pelemahan ekonomi global terhadap ekonomi domestik, menurut Solikin, terjadi melalui tiga jalur. Pertama, jalur perdagangan sebab ekspor akan melemah yang mempengaruhi volume perdagangan, harga komoditas yang meningkat. Kemudian ketidakpastian global juga memicu bank sentral di berbagai negara meresponsnya dengan (pengetatan) sehingga mempengaruhi jalur keuangan.
Oleh karena itu, BI berkomitmen mendorong strategi kebijakan moneter yang prostabilitas. Hal ini juga sebenarnya sudah sering digaungkan oleh Gubernur BI Pery Warjiyo dari awal tahun 2022.
Menurut dia, kebijakan moneter BI akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah lewat intervensi di pasar spot, pasar DNDF, dan pembelian surat berharga negara (SBN) yang dilepas asing di pasar sekunder atau triple intervention. Kemudian, ada juga operasional twist untuk menjual dan beli SBN di pasar sekunder.
Lebih lanjut, kata Solikin, BI akan tetap berupaya menjaga inflasi baik dari sisi permintaan maupun suplai. Dalam hal menjaga suplai, BI mempererat koordinasi dengan pemerintah lewat Tim Pengendalian Inflasi (TPI) baik pusat maupun daerah dan juga Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Selain itu, BI juga akan melakukan normalisasi kebijakan moneter dengan terukur. Bahkan, hal ini sudah dilakukan BI mulai paruh pertama tahun ini, yaitu dengan normalisasi likuiditas lewat peningkatan giro wajib minimum (GWM). Kemudian, ada peningkatan suku bunga acuan pada bulan Agustus 2022 sebesar 25 basis poin (bps).
"Kami upayakan likuiditas sehat untuk ekonomi. Jika ada kenaikan GWM tidak akan ganggu kemampuan perbankan dalam menjalankan intermediasi perbankan. Point-nya kami melihat ekonomi harus dikelola dengan baik, jadi tetap melihat bagiamana (ekonomi) tumbuh. Ini harus diupayakan hati-hati terkait suku bunga," pungkas dia.
Editor: Nasori
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






