Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi uang. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Ilustrasi uang. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Rupiah Masih Bertengger di Rp 15.000, Simak Penjelasan BI

Jumat, 23 September 2022 | 23:59 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,25% pada Kamis (22/9/2022) belum berdampak langsung pada penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (23/9/2022), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,1% atau 14,5 poin ke posisi Rp 15.037,5 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto mengatakan, berlanjutnya pelemahan mata uang tak hanya dialami Indonesia, tapi juga mata uang secara umum (berbagai negara). Pelemahan ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 bps.

Baca juga: Bank Indonesia Sebut Pemulihan Ekonomi Dorong Ekspansi Kredit Korporasi

"Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) 75 bps dan memberikan sinyal tetap hawkish ke depannya. Sampai saat ini, hampir semua mata uang Asia secara umum masih terus melemah," kata Edi kepada Investor Daily, Jumat (23/9/2022).

Ia tak menampik bahwa rupiah sempat mengalami pelemahan paling rendah pada Kamis (22/9/2022). Namun, setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps, rupiah terpantau menguat.

"Sedangkan rupiah yang melemah pada Jumat disebabkan rilis data GfK Consumer Confidence UK mencapai level terendah baru -49 (vs survey -42) akibat krisis living cost, sehingga semakin membangun kekhawatiran krisis ekonomi global. Hal ini menyebabkan banyak mata uang khususnya di negara berkembang mengalami pelemahan,” jelasnya.

Baca juga: Inflasi Terkendali, BI Janji Tak Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan

Meski demikian, BI memastikan akan terus mengamati berbagai perkembangan dan mengawal di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. "Tentu kami mengawal di pasar melalui triple intervention untuk smoothing agar tidak terjadi pelemahan yang berlebihan dan mekanisme pasar tetap terjaga," tegas dia.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi, Direktur Eksekutif Bank Indonesia, Erwin Haryono mencatat aliran modal asing keluar dari pasar keuangan sebesar Rp 3,53 triliun selama periode 19-22 September 2022. "Rinciannya, jual neto Rp 3,8 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 0,27 triliun di pasar saham," ungkapnya dalam keterangan tertulis.

Sementara itu, berdasarkan data setelmen hingga 22 September 2022, nonresiden jual neto Rp 148,11 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 72,78 triliun di pasar saham.

Baca juga: Suku Bunga Naik, Simak Sektor Saham Peluang Cuan Rekomendasi Analis

Aliran modal asing keluar telah berdampak pada kenaikan premi risiko investasi. Hal ini terlihat dari premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun yang naik ke 137,05 bps per 22 September 2022 dari 108,86 bps per 16 September 2022. Adapun imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik di 7,26%.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com