Rupiah Masih Bertengger di Rp 15.000, Simak Penjelasan BI
JAKARTA, investor.id – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,25% pada Kamis (22/9/2022) belum berdampak langsung pada penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (23/9/2022), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,1% atau 14,5 poin ke posisi Rp 15.037,5 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto mengatakan, berlanjutnya pelemahan mata uang tak hanya dialami Indonesia, tapi juga mata uang secara umum (berbagai negara). Pelemahan ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 bps.
"Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) 75 bps dan memberikan sinyal tetap hawkish ke depannya. Sampai saat ini, hampir semua mata uang Asia secara umum masih terus melemah," kata Edi kepada Investor Daily, Jumat (23/9/2022).
Ia tak menampik bahwa rupiah sempat mengalami pelemahan paling rendah pada Kamis (22/9/2022). Namun, setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps, rupiah terpantau menguat.
"Sedangkan rupiah yang melemah pada Jumat disebabkan rilis data GfK Consumer Confidence UK mencapai level terendah baru -49 (vs survey -42) akibat krisis living cost, sehingga semakin membangun kekhawatiran krisis ekonomi global. Hal ini menyebabkan banyak mata uang khususnya di negara berkembang mengalami pelemahan,” jelasnya.
Meski demikian, BI memastikan akan terus mengamati berbagai perkembangan dan mengawal di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. "Tentu kami mengawal di pasar melalui triple intervention untuk smoothing agar tidak terjadi pelemahan yang berlebihan dan mekanisme pasar tetap terjaga," tegas dia.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi, Direktur Eksekutif Bank Indonesia, Erwin Haryono mencatat aliran modal asing keluar dari pasar keuangan sebesar Rp 3,53 triliun selama periode 19-22 September 2022. "Rinciannya, jual neto Rp 3,8 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 0,27 triliun di pasar saham," ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Sementara itu, berdasarkan data setelmen hingga 22 September 2022, nonresiden jual neto Rp 148,11 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 72,78 triliun di pasar saham.
Aliran modal asing keluar telah berdampak pada kenaikan premi risiko investasi. Hal ini terlihat dari premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun yang naik ke 137,05 bps per 22 September 2022 dari 108,86 bps per 16 September 2022. Adapun imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik di 7,26%.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," ujarnya.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






