Jumat, 15 Mei 2026

BI: Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 kian Mengecil

Penulis : Triyan Pangastuti
28 Sep 2022 | 14:16 WIB
BAGIKAN
Sebuah papan iklan terlihat di depan rumah yang akan dijual di Melbourne, Australia pada 6 September 2022 saat Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga menjadi 2,35%. (FOTO: William WEST / AFP)
Sebuah papan iklan terlihat di depan rumah yang akan dijual di Melbourne, Australia pada 6 September 2022 saat Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga menjadi 2,35%. (FOTO: William WEST / AFP)

JAKARTA, Investor.id -  Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi lebih rendah pada 2023, sejalan dengan peningkatan ketidakpastian. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diprediksi mencapai 2,9% (yoy).

"Pertumbuhan ekonomi dunia makin rendah dari proyeksi sebelumnya, karena inflasi tetap tinggi dan inflasi inti cukup tinggi, terutama di negara maju, menyebabkan pasar keuangan global terus menerus diwarnai ketidakpastian. Hasil pengamatan BI, pertumbuhan ekonomi dunia makin turun 2023," tutur Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman dalam Diskusi Publik Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).

Pelemahan pertumbuhan ekonomi tahun depan akan dialami Amerika Serikat, Eropa dan Tiongkok seiring masih berlangsung kebijakan zero covid-19 di negara Tirai Bambu.

Tekanan inflasi global semakin tinggi, seiring ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara.

ADVERTISEMENT

"Inflasi negara maju selama ini sangat rendah, namun sekarang di atas 8% akibat terus berlanjutnya geopolitik, yakni tensi Rusia-Ukraina ganggu disrupsi pasokan. Akibat semua harga energi, komoditas naik, berlanjut proteksionime pangan dan adanya heat wave di Negara Tiongkok dan Eropa terus menerus memberi tekanan inflasi"pungkasnya.

Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat, sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif.


Menurut Aida, berdasarkan perkembangan terkini, kenaikan Fed Fund Rate yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga masih akan meningkat kedepan. Alhasil mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS.

"AS akan terus lanjutkan peningkatan FFR dan ini masih berlangsung tinggi sampai 2023. Kita kenal istilah higher for longer timbulkan ketidakpastian global dan pasar keuangan diikuti Eropa jadi mata uang dolar USD alami peningkatan tertinggi dalam sejarah," tutupnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia