Jumat, 15 Mei 2026

Di Tengah Ancaman Resesi Global, Menkeu: Ekonomi Indonesia Masih Tangguh

Penulis : Triyan Pangastuti
29 Sep 2022 | 16:16 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

JAKARTA, investor.id - Sejumlah lembaga memproyeksi kondisi perekonomian global tahun 2023 akan terjebak dalam jurang resesi akibat ketidakpastian global yang terus meningkat mulai dari inflasi yang diproyeksi masih tinggi hingga arah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral di sejumlah negara. 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan terus mencermati perkembangan yang sangat dinamis di seluruh dunia. Utamanya, negara-negara yang memiliki peran besar dalam perekonomian dunia seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongkok yang akan mempengaruhi seluruh dunia. Ia pun menyebut ekonomi Indonesia masih tangguh. 

"Negara-negara terbesar dunia dalam suasana dan proses penyesuaian yang tidak mudah. Ini akan memberi dampak ke seluruh dunia dan mungkin memberi dampak pada Indonesia," ucap Menkeu saat ditemui di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, berbagai risiko tersebut akan terus diantisipasi pemerintah kedepan. Untuk kuartal IV 2022, Menkeu optimistis belanja pemerintah dapat turut menopang pertumbuhan ekonomi.

Proyeksi kinerja ekonomi yang tetap kuat di kuartal IV ini mengacu dari berbagai indikator ini hingga kuartal III yang melanjutkan tren penguatan mulai dari  konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor, serta investasi yang mulai pulih.

"Untuk 2022 kami perkirakan sampai dengan akhir tahun pertumbuhan kita masih cukup resilient," ucapnya.

Ditengah risiko perlambatan ekonomi global di tahun depan, maka pemerintah berkomitmen tetap menjaga resiliensi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebagai shock absorber. Dalam hal ini pemerintah tetap menjaga sisi permintaan yakni  daya beli masyarakat, dunia usaha. Sementara itu, sisi  stabilitas harga pemerintah akan bergerak dengan tim pengendali inflasi di pusat dan daerah.

"Domestik demand kita harus tetap terjaga, konsumsi berkaitan daya beli harus dijaga secara sangat hati-hati, pertumbuhan kredit dunia usaha sudah meningkat itu semuanya bisa menciptakan pekerjaan, income dan daya beli. Ini semuanya adalah cara kita, dan kita menggunakan tools APBN dan bekerja sama dengan BI untuk terus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan mendorong pemulihannya," pungkasnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia