Jumat, 15 Mei 2026

Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diprediksi 5,5%

Penulis : Triyan Pangastuti
21 Okt 2022 | 15:03 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mendampingi Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait kenaikan harga BBM di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Sabtu, 3 September 2022. (BPMI Setpres)
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mendampingi Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait kenaikan harga BBM di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Sabtu, 3 September 2022. (BPMI Setpres)

JAKARTA, Investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III tembus di atas 5,5%. Proyeksi ini lebih tinggi, dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II masing masing 5,01%dan 5,44% (yoy).


"Pertumbuhan ekonomi kuartal III masih tumbuh sangat kuat bisa di atas 5,5% (yoy) sesuai dengan perkiraan dari Kementerian Keuangan,"ucapnya dalam Konferensi Pers APBN KiTA, Jumat (21/10).

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang kuat pada kuartal III didukung sejumlah indikator dini, yakni mobilitas masyarakat yang berada di atas level pandemi, meskipun sedikit melambat pada bulan Oktober, indeks penjualan ritel masih kuat, belanja masyarakat yang dilihat dari Mandiri Spending Index tetap terus terjaga.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, dia mengatakan, kinerja manufaktur Indonesia yang terus mengalami ekspansi selama 13 bulan berturut-turut atau masuk zona ekspansif. Begitu pula dengan konsumsi listrik untuk sektor industri dan bisnis yang mengalami pertumbuhan positif masing masing 8,1% (yoy) dan 17,3%(yoy).

"Sisi manufaktur, kami melihat industri pengolahan kapasitas produksi juga alami kenaikan ini semua gambarkan pertumbuhan ekonomi kuartal III mungkin sangat kuat, meski kami melakukan kenaikan harga BBM tetapi tidak pengaruhi pertumbuhan ekonomi yang masih relatif terjaga"ucapnya.


Dengan kondisi yang baik di tengah peningkatan gejolak global, Menkeu memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5-5,3% (yoy). Pertumbuhan ekonomi yang relatif baik ini harus menjadi bekal untuk menghadapi tantangan global di tahun depan yang akan meningkat.

"Tahun 2023, harus diwaspadai karena gelombang pelemahan ekonomi dunia dan ketidakpastian global dan kecenderungan suku bunga naik akan mempengaruhi berbagai indikator dan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi jadi harus sangat hati hati meski saat ini momentum pertumbuhan ekonomi masih sangat sehat dan kuat," terangnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia