Kamis, 14 Mei 2026

Kemenkeu: Risiko Ekonomi Bergeser dari Pandemi ke Gejolak Global

Penulis : Triyan Pangastuti
26 Okt 2022 | 14:44 WIB
BAGIKAN
Gedung Pajak Kemenkeu. Foto:  kemenkeu.go.id
Gedung Pajak Kemenkeu. Foto: kemenkeu.go.id

JAKARTA, investor.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan pergeseran risiko yang mengancam perekonomian Indonesia dari pandemi Covid-19 ke gejolak ekonomi global. Alhasil diperlukan koordinasi semua pihak untuk memitigasi dampak rambatannya ke ekonomi domestik.

Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Dewi Puspita menjelaskan ada 4 risiko yang tengah dihadapi global. Pertama, inflasi global melonjak yang disebabkan supply disruption karena pandemi dan perang, yang dikombinasikan dengan excessive stimulus fiskal dan moneter sebelum dan selama pandemi di negara maju.

Kedua, lanjutnya, pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga, telah menyebabkan volatilitas pasar keuangan global, capital outflow, pelemahan nilai tukar rupiah hingga lonjakan biaya utang.

ADVERTISEMENT

"Risiko yang sekarang terjadi bergeser dari pandemi ke gejolak ekonomi global, yang perlu hati-hati jika sampai stagflasi kita harus jaga itu dan harus bekerja sama dengan BI yang memiliki kewenangan jaga inflasi," kata Dewi dalam Simposium Nasional Keuangan Negara 2022, Rabu (26/10/2022).

Lebih lanjut, risiko ketiga krisis utang global dan terakhir potensi stagflasi akibat pelemahan ekonomi global disertai inflasi tinggi merupakan kombinasi sangat berbahaya dan rumit secara kebijakan ekonomi.

Menurutnya, kebijakan fiskal diharapkan dapat menangani risiko tersebut sehingga tetap mencapai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan, walau tantangannya berat.

"Peran kebijakan fiskal di tengah ketidakpastian global harus jalan semua yakni stabilisasi, distribusi dan alokasi. Urutan ini tidak menunjukkan prioritas tetapi tiga hal ini harus diperhatikan" ucapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini di kisaran 5,3% dapat menjadi pijakan kuat untuk tetap optimis di tahun 2023.

"APBN bekerja keras, untuk terus dorong peningkatan pertumbuhan ekonomi ditengah gejolak ketidakpastian global,” tutup Dewi.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 57 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia