Jumat, 15 Mei 2026

BI: Bila Risiko Naik, The Fed Kerek Suku Bunga di Level 6%

Penulis : Parluhutan Situmorang
5 Des 2022 | 13:17 WIB
BAGIKAN
Kantor Bank Indonesia (BI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)
Kantor Bank Indonesia (BI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, Investor.id -  Bank Indonesia (BI) memperkirakan puncak kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan pada kuartal I-2023 pada level 5%. Namun jika terdapat peningkatan risiko, suku bunga The Fed berpotensi tembus hingga 6%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai bahwa tren suku bunga tinggi masih akan terjadi pada tahun depan dengan waktu yang cukup lama. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global mulai dari lonjakan inflasi yang diproyeksi masih meningkat imbas perang Rusia dan Ukraina dan perang dagang AS.

“Ada juga skenario upward risk, jika memang ketegangan politik berlanjut serta inflasi tidak cepat turun. Maka fenomena highest interest rate for longer, yakni kenaikan suku bunga di The Fed maupun Eropa, skenario baseline, kami menunjukkan FFR akan mencapai puncaknya 5% kurang lebih kuartal I 2023, namun ada kemungkinan mencapai 6%,” terang Perry dalam Seminar Indef, Senin (5/12).

ADVERTISEMENT

Adapun hingga November 2022, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 bps menjadi 3,75-4%. Suku bunga The Fed kini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2008.

Meski demikian, BI membuat baseline skenario bahwa suku bunga The Fed masih berpeluang untuk turun ke level 4,75% pada tahun 2023. Kondisi ini pun akan mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang di berbagai negara termasuk rupiah yang masih akan berlanjut di tahun depan, sehingga perlu diantisipasi.

"Dollar pernah mencapai 114 indeksnya terhadap mata uang asing, menguat kurang lebih 25 persen (YoY), beberapa minggu ini mulai melemah indeks dolar sekitar 106. Namun, tentu saja ke depan dolar masih akan kuat tergantung tingginya inflasi, tingginya kenaikan FFR, dan tentu bagaimana Fed menimbang kenaikan suku bunga dengan risiko resesi," kata Perry.

Di tengah penguatan dolar AS, saat ini telah terjadi fenomena cash is the king atau investor global menarik dananya dari pasar keuangan di dunia maupun negara berkembang ke alat likuid.

Dengan kondisi The Fed yang diprediksi masih akan menaikkan suku bunga di kuartal I 2022, maka fenomena cash is the king masih akan berlanjut di tahun depan.

“Kami perkirakan uncertainty akan berlanjut mengikuti pola FFR. Maka uncertainty cash is the king akan berlanjut, namun dengan adanya kejelasan arah kebijakan The Fed, maka BI memperkirakan investor global mulai kembali, amankan dana ke emerging market, termasuk Indonesia. Ini bagian pertama yakni waspada ada uncertainty kedepan, dari uncertainty ini kami tentukan tingkatkan probabilitasnya,”ucapnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia