Jumat, 15 Mei 2026

Tahun Politik Tingkatkan Ketidakpastian Ekonomi Domestik

Penulis : Triyan Pangastuti
5 Des 2022 | 13:25 WIB
BAGIKAN
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (07/08/2022). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, Investor.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memperingatkan tahun politik dan gejolak global tahun 2023 berpotensi menambah ketidakpastian ekonomi domestik.

Dia menjelaskan, peningkatan risiko ketidakpastian tahun politik sempat terjadi setahun sebelum pelaksanaan pemilihan umum, yakni di tahun 2013 dan 2018 yang menyebabkan kinerja saham turun drastis.

“Dunia begitu gelap tahun mendatang, sehingga akan berimplikasi ke dalam situasi domestik dalam negeri, apalagi tahun depan itu masuk politik penuh ketidakpastian. Pengalaman kita, satu tahun sebelum pemilu stock exchange tren turun, seperti tahun 2013 dan 2018, karena dibaca pasar ketidakpastian didalam negeri meningkat,”ungkap Tauhid dalam diskusi Indef, Senin (5/12).

ADVERTISEMENT

Selain itu, ada pula risiko global menyebabkan pelemahan ekonomi global masih berlanjut dan meningkat, mulai dari perang Rusia-Ukraina yang masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Cenderung Berlanjut

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, pelemahan ekonomi dunia masih akan berlanjut di tahun depan, dalam proyeksinya pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari 3% di tahun ini menjadi 2,6% di tahun depan.

“Tapi ini masih bisa turun lagi jadi 2% dalam skenario risiko lain. Karena terdapat risiko resesi di AS dan Eropa meningkat yang akan memberikan dampak pada kemampuan Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,”tuturnya.

Kedua, lonjakan inflasi yang belum akan menurun di tahun depan, bahkan pergerakan inflasi diproyeksikan baru akan turun pada kuartal IV tahun depan. Selanjutnya Bank Sentral di negara berkembang dan maju yang mulai meningkatkan suku bunga acuannya untuk merespon inflasi.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia