Jumat, 15 Mei 2026

Proyeksi Terburuk, Pertumbuhan Ekonomi Global Sentuh 2%

Penulis : Triyan Pangastuti
5 Des 2022 | 14:37 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat memberikan paparan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). (Sumber: Bank Indonesia)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat memberikan paparan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). (Sumber: Bank Indonesia)

JAKARTA, Investor.id -  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan proyeksi terburuk untuk pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai 2% (yoy). Proyeksi ini berdasarkan gejolak ekonomi global yang sedang berlanjut tahun 2023 dan potensi resesi Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

“Dalam hal ini, kami melihat pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari 3% (yoy) tahun ini menjadi 2,6% (yoy) pada 2023. Skenario baseline upward risk, tapi bisa turun lagi menjadi 2% (yoy),” ucapnya dalam Seminar Indef, Senin (5/12).

Dia mengatakan, potensi penurunan pertumbuhan ekonomi seiring munculnya empat risiko yang dicermati BI, yakni perang Rusia-Ukraina, perang dagang AS, kebijakan zero covid-19 di Tiongkok.

ADVERTISEMENT

“Ini memberikan gangguan rantai pasok global, persepsi risiko investor global sangat negatif. Berdasarkan fenomena itu mari kita takar tingkat probabilitasnya,” tuturnya.

Selanjutnya inflasi global kini telah mencapai 8,2% dan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat inflasinya sebesar 8,8%, Inggris sebesar 10%, serta zona euro atau Eropa mencapai 10%.

Laju inflasi yang tinggi dinilainya masih akan berlanjut di tahun 2023 dan baru akan mengalami penurunan inflasi pada kuartal IV 2023.

“Kami perkirakan inflasi global yang sekarang 8,2%, untuk akhir tahun bisa turun menjadi 6,6% baru kembali akan rendah di tahun 2024 itu skenario baseline,”ucapnya.  

Tak hanya itu, BI menilai tren penguatan rupiah itu hanya sementara, sebab dolar AS memiliki peluang masih menguat di tahun depan. Hal ini tak terlepas dari kebijakan pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga The Fed yang berimbas pada penguatan dolar terhadap nilai tukar banyak negara termasuk rupiah.

Lebih lanjut, Perry mencatat indeks dolar pernah mencapai level 114 atau menguat sekitar 25% (yoy). “Beberapa minggu ini, dolar mulai melemah, indeks dolar sekarang sekitar 106. Tapi kedepan tentu saja dollar itu masih akan kuat,”tuturnya.

Menurut Perry penguatan dolar AS sangat bergantung pada tingkat inflasi, karena untuk menormalkan inflasi Bank Sentral AS menggunakan senjata suku bunga acuannya. Alhasil tren suku bunga tinggi masih akan terjadi pada tahun depan dengan waktu yang cukup lama.

“Ada juga skenario upward risk, jika memang ketegangan politik berlanjut serta inflasi tidak cepat turun. Maka fenomena highest interest rate for longer yakni kenaikan suku bunga di The Fed maupun Eropa, skenario baseline kami menunjukkan FFR akan mencapai puncaknya 5% kurang lebih kuartal I 2023, namun ada kemungkinan mencapai 6%,”pungkas Perry.

Adapun hingga November 2022, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 bps menjadi 3,75%-4%. Suku bunga The Fed saat ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2008.

Meski demikian, BI juga membuat baseline skenario bahwa suku bunga The Fed masih berpeluang untuk turun ke level 4,75% pada tahun 2023.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia