Jumat, 15 Mei 2026

BI Tegaskan Ekonomi Global Masih Melambat 2023

Penulis : Triyan Pangastuti
22 Des 2022 | 14:33 WIB
BAGIKAN
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pemaparan hasil RDG BI, Kamis (22/12/2022).
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pemaparan hasil RDG BI, Kamis (22/12/2022).

JAKARTA, Investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2022 tembus 3% (yoy), namun pertumbuhan tahun 2023 diprediksi turun menjadi 2,6%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global tidak lepas dari peningkatan ketidakpastian global dan potensi resesi di sejumlah negara.

“Perlambatan ekonomi global dipengaruhi fragmentasi ekonomi, perdagangan hingga investasi akibat ketegangan geopolitik yang berlanjut dan pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju,”tutur Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG, Kamis (22/12).

Dia mengatakan hingga Desember 2022, assesment BI menunjukkan kondisi ekonomi global masih diliputi peningkatan ketidakpastian. Alhasil, kondisi ini berdampak terhadap perlambatan ekonomi tahun 2023.

ADVERTISEMENT

“Ekonomi global 2023 melambat, sebagaimana perkiraan risiko resesi global di beberapa negara AS dan Eropa sehingga ekonomi global turun menjadi 2,6% di tahun 2023,”tegasnya.

Sementara itu, sisi inflasi diperkirakan tetap tinggi, meski dalam tren melandai. Inflasi tahun depan masih dipengaruhi berlanjutnya gangguan mata rantai pasok global dan ketatnya pasar tenaga kerja di AS dan Eropa.

Tak hanya itu, dalam merespon lonjakan inflasi di AS, bahkan BI memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) masih akan menggunakan instrumen kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya untuk terus menurunkan inflasinya.

“Inflasi masih tinggi, ini akan mendorong kebijakan moneter yang tetap ketat. The Fed masih akan naikkan suku bunga di awal tahun 2023 dengan siklus pengetatan kebijakan moneter yang panjang, meskipun besaran kenaikkan akan lebih rendah dari perkiraan,”tuturnya.

Berbagai dinamika ketidakpastian di pasar keuangan global, kata Perry masih akan mendorong kuatnya mata uang dolar terhadap mata uang negara lain termasuk Indonesia. Dampak lainnya, belum kuatnya aliran modal asing masuk dari emerging market, termasuk Indonesia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 44 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 46 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia