Jumat, 15 Mei 2026

Ketidakpastian Global Tinggi, Rupiah Diprediksi di Atas Perkiraan APBN

Penulis : Triyan Pangastuti
6 Jan 2023 | 19:03 WIB
BAGIKAN
Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer di Jakarta pada 3 Januari 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc)
Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer di Jakarta pada 3 Januari 2023. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc)

JAKARTA,Investor.id - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nawir Messi memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melampaui target APBN 2023 level Rp 14.800 per dolar Ammerika Serikat (AS). Hal ini dipengaruhi kecenderungan peningkatan ketidakpastian ekonomi global.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang negara lain diprediksi tetap lanjutkan pelemahan terhadap dolar AS. "Bisa jadi bias-bias (margin), seperti ini akan terjadi tahun berjalan 2023, karena kecenderungan global tetap mengalami ketidakpastian,” kata Nawir Messi di Jakarta, Jumat (6/1/2023).

Selain itu, dia menatakan, peluang melesetnya nilai tukar sudah terlihat dari posisi akhir tahun 2022 berada di level Rp 15.737 per dolar AS atau memiliki margin sebesar Rp 1.387dari target APBN yang sebesar Rp14.350. "Selisih ini besar bagi perekonomian, dunia usaha, bagi APBN,” kata Nawir.

ADVERTISEMENT

Pelemahan nilai tukar juga dipengaruhi atas berlanjutnya kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (Fed) untuk menaikkan suku bunga acuannya pada 2023, meskipun tidak seagresif tahun 2022. Bank sentral AS diprediksi menaikkan suku bunga acuan maksimum 50 basis poin (bps) awal tahun 2023.

“Saya kira The Fed tetap akan menaikkan suku bunga acuan, meskipun tidak seagresif kenaikan sebelumnya yang 50-75 bps. Saya kira tidak akan seketat itu,” ujarnya.

Di tengah tantangan ketidakpastian global yang tinggi, Nawir meminta, semua pihak untuk terus mewaspadai berbagai risiko tahun ini, termasuk dampaknya terhadap laju nilai tukar, karena banyak pekerjaan besar dalam mengelola nilai tukar di sektor moneter.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2022 The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tujuh kali atau sebesar 425 bp, dari level 0,00 – 0,25% pada Februari 2022 ke level 4,25- 4,5% hingga Desember 2022.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 36 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia