Jumat, 15 Mei 2026

BI:Cadangan Devisa Februari 2023 Naik Jadi US$ 140,3 Miliar

Penulis : Arnoldus Kristianus
7 Mar 2023 | 14:20 WIB
BAGIKAN
Topremit meraih penghargaan sebagai Penyedia Transfer Dana Bukan Bank Terbaik 2022 dari Bank Indonesia (BI). (ist)
Topremit meraih penghargaan sebagai Penyedia Transfer Dana Bukan Bank Terbaik 2022 dari Bank Indonesia (BI). (ist)

JAKARTA,investor.id - Bank Indonesia(BI) mencatatkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2023 senilai US$ 140,3 miliar, meningkat dari posisi akhir Januari 2023 sebesar US$ 139,4 miliar. Peningkatan ini dipengaruhi penerimaan pajak serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam pernyataan resmi yang diterima pada Selasa (07/03/2023).

Dia mengatakan, posisi cadangan devisa pada Februari 2023 berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

ADVERTISEMENT

Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga. Hal ini seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung proses pemulihan ekonomi nasional,” kata Erwin.

Secara terpisah, Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Faisal Rachman menilai posisi cadangan devisa tetap memadai hingga akhir tahun 2023 dengan kisaran US$ 135 miliar sampai 145 miliar. Hal ini dapat mendukung nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS  selama periode ketidakpastian global yang tinggi.

“Kami memperkirakan Rupiah menjadi sekitar Rp 15.285 per   Dolar AS  pada akhir tahun 2023 dengan rata-rata sekitar Rp 15.220 pe  Dolar AS  pada tahun 2023,” ucap Faisal di Jakarta pada Selasa (07/03/2023).

Ketidakpastian global yang terus berlangsung memberikan tantangan bagi ketahanan sektor eksternal Indonesia. Faisal memperkirakan neraca transaksi berjalan Indonesia akan berubah menjadi defisit yang dapat dikelola sekitar -1,10% dari PDB pada tahun 2023. Sebab pertumbuhan ekspor cenderung melambat akibat penurunan harga komoditas yang didorong oleh permintaan global yang melemah di tengah tingginya inflasi dan berlanjutnya kenaikan suku bunga kebijakan.

“Surplus perdagangan diproyeksikan menyusut tetapi bisa bertahan lebih lama dari yang diantisipasi karena penurunan harga komoditas akan lebih bertahap, berkat pembukaan kembali ekonomi China dan kondisi kawasan Euro yang lebih baik dari perkiraan,” kata Faisal.

Sementara itu pertumbuhan impor dapat lebih kuat karena permintaan domestik cenderung terus menguat, menyusul pencabutan PPKM pada akhir tahun 2022 dan keputusan untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional. Tetapi geliat pertumbuhan impor diperkirakan melemah dari pertumbuhan tahun 2022 karena harga minyak yang lebih rendah.

Kondisi pasar keuangan global yang kembali bergejolak, disebabkan oleh inflasi tinggi yang membandel di AS di tengah pasar tenaga kerja yang ketat, memberikan beberapa rintangan pada neraca modal dan keuangan. Dengan meningkatnya ketakutan akan perlambatan ekonomi global dapat memicu sentimen risk-off, terutama di pasar saham. Bank-bank sentral negara lain sebagian besar akan mempertahankan tingkat kebijakan global "lebih tinggi untuk lebih lama dalam mengantisipasi inflasi.

“Kabar baiknya, agenda pemerintah untuk terus melakukan hilirisasi sumber daya alam dapat menarik lebih banyak aliran investasi langsung ke Indonesia. Upaya menahan Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE), termasuk instrumen Bank Indonesia berupa term deposit valas dari DHE, juga dapat menghambat penempatan aset di luar negeri,” kata dia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia