Jumat, 15 Mei 2026

Penurunan Permintaan Berlanjut, Industri Manufaktur di Ambang Kontraksi

Penulis : Leonard AL Cahyoputra / Eva Fitriani
6 Jun 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

JAKARTA, investor.id - Industri manufaktur terancam meninggalkan fase ekspansi dan mengarah ke kontraksi, seiring berlanjutnya penurunan permintaan dari pasar domestik dan ekspor. Indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan, industri manufaktur nasional berada di posisi 50,3 pada bulan Mei 2023, turun dari bulan sebelumnya 52,7.

PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Indeks yang dirilis setiap bulan tersebut, memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.

Dari hasil survei S&P Global yang dirilis Senin (05/06/2023), PMI Indonesia pada bulan Mei 2023 masih di atas PMI Amerika Serikat yang sudah masuk fase kontraksi di level 48,4 dan Eropa di posisi 44,8. PMI dunia pada bulan Mei 2023 juga telah masuk fase kontraksi di level 49,6.

Penurunan Permintaan Berlanjut, Industri Manufaktur di Ambang Kontraksi
industri manufaktur

“PMI Indonesia kemungkinan mengarah ke kontraksi juga, walaupun kondisinya tidak akan separah di Amerika maupun Eropa. Faktor pendorongnya karena pelemahan permintaan dari dalam maupun luar negeri,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal kepada Investor Daily, Senin (05/06/2023).

ADVERTISEMENT

Faisal melihat, penurunan permintaan terutama berasal dari luar negeri. Sementara di dalam negeri, walaupun terjadi penurunan order, masih sedikit lebih baik dibanding dari pasar global.

“Jadi, karena permasalahannya dari sisi order, kebijakan yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong agar permintaan terus tumbuh,” tutur dia.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar melihat, industri manufaktur sudah berada pada fase dengan kehati-hatian tinggi saat ini. “Dengan penurunan PMI sebanyak 2,4, walaupun masih di level 50,3, ini sudah mepet. Penurunan ini menjadi lampu kuning agar kita waspada bahwa pasar dalam negeri juga menurun,” kata Bobby melalui sambungan telepon kepada Investor Daily, Jakarta, Senin (05/06/2023).

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia