Penurunan Permintaan Berlanjut, Industri Manufaktur di Ambang Kontraksi
6 Jun 2023 | 05:00 WIB
Meski demikian, dia meyakini, Indonesia tidak akan masuk jurang resesi karena pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih cukup solid. “Pemerintah harus terus menggenjot pertumbuhan ekonomi, selain dari progam yang sudah ada. Kalau Bank Indonesia memberi sinyal penurunan suku bunga sekitar 25 basis poin atau bahkan 50 basis poin, ini akan bagus, karena inflasi kita cukup bagus. Ini yang harus dipikirkan pemerintah,” kata Bobby.
Terseok-seok
Senada dengan Bobby, Direktur Eksekutif Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad melihat, penurunan PMI Manufaktur dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKI) bulan Mei merupakan kode bahwa industri manufaktur masih akan terseok-seok pada tahun ini. “Industri ini masih berat. Beberapa kebijakan pemerintah masih belum berpengaruh,” kata dia.
Tauhid menilai, penurunan impor bahan baku menunjukkan berkurangnya utilitas industri manufaktur, terutama pada sektor yang berorientasi ekspor. Hal ini masih akan berlanjut mengikuti gejala penurunan ekspor sampai akhir tahun ini.
“Ini baru gejala awalnya, masih akan berlanjut dan belum ada pemulihan. Belum ada pendorong yang cukup kuat untuk bisa membuat comeback di semester II. Belum ada momentum,” kata Tauhid.
Tingkat Kepercayaan Menurun
Sementara itu Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Jingyi Pan mengatakan, penurunan PMI manufaktur Indonesia terutama disebabkan melemahnya permintaan yang dipengaruhi kondisi ekonomi domestik dan global. “Sangat penting untuk memonitor seberapa tangguh penurunan permintaan terkini, karena hal ini akan memengaruhi perkiraan pertumbuhan jangka pendek,” kata Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Jingyi Pan dalam keterangan resminya, Senin (05/06/2023).
Menurut Jingyi Pan, kondisi permintaan yang lebih lemah menyebabkan tekanan harga bagi produsen Indonesia semakin berkurang, yang artinya inflasi harga jual yang lebih lunak di sektor produksi barang, sehingga mencerminkan upaya Bank Indonesia dalam menurunkan tekanan inflasi melalui pengetatan kebijakan moneter.
“Namun demikian, sangat mengkhawatirkan melihat bahwa sentimen bisnis tetap suram, dengan tingkat kepercayaan semakin turun di bawah rata-rata pada bulan Mei, mencerminkan kekhawatiran yang masih ada terhadap perkiraan pada tahun yang akan datang,” ujar dia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






