Jumat, 15 Mei 2026

Agar Mandiri Pangan Tak Hanya Jargon Belaka

Penulis : Tri Listiyarini
16 Aug 2023 | 13:33 WIB
BAGIKAN
Petani sedang menebarkan pupuk ke tanaman (website Kementan)
Petani sedang menebarkan pupuk ke tanaman (website Kementan)

JAKARTA, investor.id–Tanah subur, iklim mendukung, tenaga kerja melimpah, dan anggaran belanja negara yang besar, belumlah cukup untuk mewujudkan Indonesia Mandiri Pangan 2045. Masih butuh satu senjata, kemauan politik (political will) yang kuat dari pemerintah, mengingat sektor pertanian nasional punya segudang masalah, mulai dari konversi lahan hingga para petani yang umumnya berusia tua. Dengan kokang yang tepat, Indonesia Mandiri Pangan 2045 diyakini bukan hanya jargon belaka.

Pada Juni lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang memuat Visi Indonesia Emas 2045. Salah satu poin penting di dalamnya, saat 100 tahun Indonesia merdeka pada 17 Agustus 2045, RI ingin menjadi Negara Nusantara yang Berdaulat, Maju, Berkelanjutan. Salah satu aspek Negara Nusantara Berdaulat yang harus diwujudkan adalah mandiri pangan, Indonesia Mandiri Pangan 2045. Indonesia yang mandiri pangan tidak bergantung pada negara lain karena memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri.

Realitanya, menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Hermanto Siregar, hingga berusia 78 tahun pada Agustus ini, Indonesia masih belum mandiri di bidang pangan. Indikatornya tiga, yakni masih banyak petani yang miskin, produksi yang sering kurang sehingga impor, dan adanya kelaparan di Papua Tengah baru-baru ini. "Kita harus jujur, Indonesia masih belum mandiri di bidang pangan. Masih banyak petani kita yang miskin. Baru saja, kita dapat penghargaan karena swasembada beras, tapi tiba-tiba impor. Dan kemarin, ada kasus kelaparan. Ini bukan kritik negatif, tapi kritik konstruktif, harus kita atasi sama-sama ke depan," ujar dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Hermanto mengatakan, Indonesia memiliki ketergantungan impor untuk beberapa komoditas, seperti gandum, bawang putih, kedelai, daging sapi, gula, bahkan terkini beras. Indonesia yang memiliki lautan luas tapi impor garam, memiliki Sulawesi sebagai sentra kakao tapi impor cokelat. "Kalau gandum tidak usah cerita. Kita makan tempe-tahu tiap hari, tapi kedelainya impor. Ini banyak penyebabnya, mulai dari produktivitas yang rendah, lahan yang terus menyusut, petani kita yang tua-tua. Tapi semua itu muaranya apa, political will enggak ada," jelas Hermanto yang juga Ketua Komite Tetap (Komtap)mandi Ketahanan Pangan Kadin Indonesia tersebut.

ADVERTISEMENT

Baca Juga :

Hadapi El Nino, Perum Bulog Percepat Realisasi Impor Beras

Ia menilai bahwa RPJPN 2025-2045 yang tengah disiapkan oleh pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai langkah yang bagus dan positif. Langkah ini akan memberi kejelasan, sektor pertanian pangan Indonesia mau dibawa ke mana saat Indonesia berumur 100 tahun nanti. “Ini sebuah komitmen,” tandas dia.

Dalam Prognosa Neraca Pangan Nasional Januari-Desember 2023 yang diolah Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA), realisasi impor pangan Januari-Juni 2023 dan perkiraan Juli-Desember 2023 masing-masing untuk beras 1.018.198 ton dan 1.883.730 ton, jagung 377.134 ton dan 532.797 ton, kedelai 1.352.905 ton dan 1.024.422 ton, bawang putih 200.861 ton dan 399.327 ton, daging lembu 165.699 ton dan 132.146 ton, serta gula konsumsi 293.400 ton dan 697.600 ton.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia