Kamis, 14 Mei 2026

Pengamat Pertanian Nilai Infrastruktur Jadi  Ujung Tombak Peningkatan Produktivitas Pertanian

Penulis : Imam Suhartadi
11 Nov 2023 | 06:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi sawah. (Dok. Antara)
Ilustrasi sawah. (Dok. Antara)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Pertanian terus mendorong pembangunan sarana dan prasarana pertanian di seluruh Indonesia. Tak hanya berupa fisik, dukungan sarana non fisik juga terus dilakukan untuk membantu petani.

Hal ini ditujukan untuk mendongkrak produksi dan produktivitas pertanian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Pembangunan infrastruktur ini ditanggapi positif oleh pengamat pertanian, Khudori. Menurutnya, infrastruktur pertanian adalah ujung tombak agar budidaya pertanian bisa maksimal.

"Kalau infrastruktur itu tidak memadai, maka kegiatan budidaya pertanian bisa gagal. Contohnya infrastruktur yang menjamin ketersediaan air, seperti irigasi, embung, atau waduk. Kalau infrastruktur itu tidak ada, maka proses budidaya tidak bisa dilakukan. Karena semua tanaman perlu air," kata Khudori di Jakarta, Sabtu (11/11/2023). 

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, dia memandang pemerintah harus benar-benar memperhatikan persoalan ini. Supaya target peningkatan produksi pertanian itu bisa tercapai.

Khudori juga menyarankan kepada pemerintah untuk memperkuat sinkronisasi pembangunan infrastruktur antar kementerian atau stakeholder terkait. Sebab, menurutnya ada permasalahan serius terkait ini, dimana kadang tidak ada kesinambungan antara pembangunan yang dilakukan oleh pusat dengan daerah.

"Misalnya begini, jaringan irigasi primer dan sekunder yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat sudah dibangun, tapi jaringan irigasi tersier yang menjadi tanggung jawab daerah belum dibangun. Itu yang membuat air dari embung atau waduk tidak optimal sampai ke sawah petani," jelas Khudori.

Selain soal infrastruktur fisik, menurut Khudori, sarana pertanian non fisik juga sangat penting untuk diperhatikan, seperti pupuk subsidi. 

Meski jumlah pupuk subsidi itu terbatas dan tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan petani, Khudori mengapresiasi adanya aplikasi Integrasi Pupuk Bersubsidi (iPubers) yang dibuat Kementan, yaitu dengan mengintegrasikan data berbasis petani dan data dari pupuk Indonesia yang basisnya penyalur.

"Setahu saya ini (ipubers) sudah dicoba di 8 provinsi dan hasilnya bagus. Mudah-mudahan ini terus dijaga, dan bisa diperluas. Nanti ujungnya bisa mengubah sistem subsidi dari bentuk barang ke (subsidi) langsung petani," jelasnya.

Berikutnya, menurutnya yang tak kalah penting adalah sarana pertanian berupa modal kerja. Sebab, banyak petani yang masih mengandalkan modal pribadi yang kecil dan tidak sanggup lagi menanam bila kehabisan modal.

"Makanya modal usaha dengan syarat mudah dan bunga rendah dari pemerintah itu sangat penting sekali," kata Khudori.

Dari segi ini, Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian sudah cukup memadai untuk membantu petani. Namun dia menyoroti adanya masalah teknis yang menjadi kendala di lapangan, terutama terkait agunan yang disyaratkan oleh bank penyalur.

"Meski pemerintah sudah memastikan tak perlu agunan, tapi bank-bank penyalur dalam pelaksanaannya masih mensyaratkan agunan itu. Petani seringkali terkendala di sini. Kayaknya perlu cari solusi bersama untuk ini," jelasnya.

Terakhir, Khudori menyarankan pemerintah untuk menambah lahan pertanian. Sebab selama lima tahun terakhir ini, lahan pertanian kita terus menyusut yang berdampak pada menurunnya produksi pertanian. Tapi kebutuhan pangan terus naik.

"Lahan sawah kita itu hanya 7,4 juta hektare. Belum lagi ada alih fungsi. Karena itu, mau tidak mau selain meningkatkan produktivitas, pemerintah juga harus menambah lahan pertaniannya," pungkasnya.

Editor: Imam Suhartadi

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 34 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 45 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia