Jumat, 15 Mei 2026

Business Matching UMKM Catat Potensi Ekspor US$ 5,22 Juta

Penulis : Leonard AL Cahyoputra
10 Feb 2025 | 18:44 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi ekspor dan impor. (Foto: Antara)
Ilustrasi ekspor dan impor. (Foto: Antara)

JAKARTA,Investor.id -Kementerian Perdagangan (Kemendag) berhasil mencatatkan potensi transaksi pada penjajakan bisnis (business matching) bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar US$ 5,22 juta pada Januari 2025.

Kemendag menggelar business matching melalui perwakilan perdagangan di luar negeri, yang  terdiri  atas  sesi  presentasi bisnis dan pengenalan  produk  (pitching)  serta  sesi  pertemuan  langsung dengan buyer. Tujuannya, untuk memperluas akses pasar para pelaku UMKM melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor.

“Pada Januari  2025, business matching yang kami lakukan mencatatkan hasil yang menggembirakan dengan potensi transaksi mencapai US$ 5,22 juta. Nilai ini terdiri atas transaksi pembelian sebesar US$ 1,55 juta dan potensi transaksi  dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) sebesar US$ 3,67 juta,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (10/2/2025).

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, transaksi pembelian sebesar US$ 1,55 juta berasal dari Singapura untuk produk aneka rempah. Selanjutnya, juga dilakukan penandatanganan nota  kesepahaman (MoU) sebesar US$ 2,67 juta. “Produk yang banyak diminati oleh Singapura,yaitu aneka rempah-rempah dan produk perkebunan,” ungkap Puntodewi.

Sementara itu, Korea Selatan turut berkontribusi dalam angka potensi transaksi dengan capaian MoU sebesar US$ 1 juta. “Adapun produk-produk yang diminati meliputi  produk kayu (seperti  lantai, dekorasi  rumah, dan furnitur), alat  dan peralatan medis, makanan olahan, produk pertanian, baja, aluminium, tembaga, petrokimia, kendaraan listrik, serta produk unggas,” ujar dia.

Menurut Puntodewi, sepanjang Januari 2025, Kemendag telah melaksanakan 72 business matching, baik daring maupun luring di 33 negara. Kegiatan tersebut meliputi 40 sesi pitching dan 32 sesi pertemuan langsung dengan buyer.

Business matching telah diikuti 196 pelaku UMKM dari berbagai sektor, yakni makanan dan minuman, furnitur, kerajinan tangan, alat kesehatan, produk kimia, kopi, dan  rempah-rempah. Para buyer pun terlibat aktif dalam menjajaki peluang kerja sama dengan eksportir Indonesia.

Puntodewi menyebut, keberhasilan yang diraih tidak lepas dari dukungan berbagai pihak khususnya para pembina  UMKM. “Para pembina UMKM telah aktif mendampingi dan merekomendasikan pelaku usaha binaan mereka. Sinergi  yang terjalin dengan baik ini menjadi kunci utama dalam mencapai hasil optimal,” ucap dia.

Puntodewi juga menyampaikan, Kemendag akan terus memperkuat sinergi dengan para pembina UMKM serta kementerian dan lembaga  terkait  untuk  mencapai  hasil  yang  lebih  optimal. “Pada Februari 2025, kami berencana menyelenggarakan 75 kegiatan business matching yang melibatkan lebih banyak pembina UMKM. Produk-produk yang akan dipromosikan mencakup furnitur, makanan olahan, perikanan, pertanian, rempah-rempah, dan fesyen muslim," kata dia.

Puntodewi optimistis potensi transaksi yang dihasilkan akan terus meningkat mengingat tingginya minat buyer terhadap  produk  Indonesia.  Oleh  karena  itu, Kemendag akan  terus  memantau  dan mengawal setiap peluang hingga terealisasi menjadi transaksi yang nyata.

“Di tengah berbagai tantangan, Kemendag tetap berkomitmen menyelenggarakan kegiatan yang dapat mendorong peningkatan ekspor Indonesia. Sinergi, kolaborasi, dan inovasi adalah kunci untuk mendukung pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam menembus pasar global,” ucap dia.

Pada  2024, total ekspor nonmigas Indonesia tercatat sebesar US$ 248,83 miliar, atau naik 2,46% dibandingkan 2023. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada sektor pertanian yang tumbuh 29,81%, diikuti sektor industri 5,33%.

Beberapa produk utama ekspor nonmigas dengan kenaikan  tertinggi  pada  2024,  antara  lain,  kakao  dan  olahannya (HS18)  sebesar  118,64%; barang dari besi dan baja (HS 73) 101,10%; aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 70,07%; sertakopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) 67,25%. Adapun pangsa utama ekspor nonmigas yaitu, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan total nilai mencapai US$ 106,86 miliar.

Editor: Leonard

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia